Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kreativitas Pemuda Lintas Agama Jawa Tengah Merayakan Sumpah Pemuda dengan Membatik Bersama

Muhammad Hariyanto • Minggu, 29 Oktober 2023 | 20:54 WIB
Mahasiswa dari berbagai daerah berbondong-bondong menuju ke Kampoeng Djadhoel Semarang atau yang lebih dikenal kampung Batik, Rejomulyo Semarang Timur. Mereka menghadiri acara peringatan Sumpah Pemuda
Mahasiswa dari berbagai daerah berbondong-bondong menuju ke Kampoeng Djadhoel Semarang atau yang lebih dikenal kampung Batik, Rejomulyo Semarang Timur. Mereka menghadiri acara peringatan Sumpah Pemuda

RADARSEMARANG.ID, Semarang  - Mahasiswa dari berbagai daerah berbondong-bondong menuju ke Kampoeng Djadhoel Semarang atau yang lebih dikenal kampung Batik, Rejomulyo Semarang Timur. Mereka menghadiri acara peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, dan ikut membatik.

Uniknya lagi, yang hadir juga mahasiswi yang berasa dari negara asing, yakni Afganistan, Kamboja, Tiongkok dan Thailand.

Sebelum membatik, juga ikut rangkain kegiatan upacara sumpah pemuda, mulai menyanyikan lagu Indonesia Raya hingga pembacaan ikrar sumpah pemuda.

"Kalau disini kan ada bagikan, kalau di Thailand tidak ada. Bagian saya first time, meski gak secantik (membatik) rasanya senang, bisa mengenal budaya-budaya disini," ungkap mahasiswi bernama Faridah Samo, disela membatik kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (28/10) kemarin.

Terlihat, Faridah Samo berbaur dengan mahasiswa mahasiswi lainnya berasal dari pribumi. Hasil batikan yang ditujukan adalah warak ngendok.

Faridah Samo mengatakan berada di Semarang bukan mengikuti pertukaran mahasiswa. Namun, ia sedang mengikuti pendidikan kuliah akademik.

"Saya mahasiswa asing dari Thailand. Kuliah di Unwahas, semester tiga. Di Semarang kurang lebih setahun," katanya.

Sementara, Bismoko Rahadrian Suseno, mengatakan momen hari sumpah pemuda, ini Komunitas Omah Gayeng bersama Global Peace Youth Indonesia mengobarkan semangat toleransi dan persatuan antar umat beragama.

Acara tersebut diikuti oleh pemuda-pemudi dengan latar belakang agama, suku dan ras yang berbeda.

"Sejarah telah mencatat bahwa anak muda merupakan bagian dari perjuangan bangsa ini dan setelah 95 tahun berlangsung, berbagai lintas generasi muda terus memberikan kreativitasnya untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih maju," kata pria, selaku Koordinator Omah Gayeng.

"Jadi kita mengundang beberapa mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda beda untuk menarasikan bahwa kita ingin membawa narasi kesatuan dan persatuan dari keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia. Mahasiswa dari semarang kudus solo, yang ada di Jawa Tengah. Ada dari Afganistan, Kamboja, Thailand dan Tiongkok," imbuhnya.

Ketua Global Peace Youth Indonesia (GPYI) Semarang, Yoga Pratama menambahkan, kegiatan ini mengundang pemuda pemudi lintas agama dan lintas bidang.

Tujuannya agar semua bisa saling mengenal ditengah perbedaan sebagaimana semangat dari sumpah pemuda itu sendiri.

"Dan tentu, kegiatan seperti ini atau peace projects akan terus berlangsung setiap bulan ditempat yang berbeda dan momentum yang berbeda juga," imbuh.

Kegiatan ini juga dihadiri Camat Semarang Timur, Kusnandir dan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Samsu Bahri Siregar.

Keduanya juga sangat mengapresiasi kegiatan ini. Samsul Bahri Siregar berharap kegiatan ini dapat memotivasi generasi muda untuk melestarikan kebudayaan membatik.

"Itu yang pertama. Batik ini juga warisan leluhur. Saya harapkan, kegiatan ini tidak hanya berhenti disini, bisa terus berkelanjutan. Sehingga kampung ini bisa dikenal dan menjadi destinasi atau daya tarik Kota Semarang," katanya. (mha/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#MAHASISWA #BATIK #Kampung Batik