Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Guro-Guro Aron Pererat Persaudaraan Suku Karo

Magang Radar Semarang • Minggu, 22 Oktober 2023 | 18:12 WIB
Anak-anak muda asal suku Karo yang ada di Semarang menarikan Guro-guro Aron.
Anak-anak muda asal suku Karo yang ada di Semarang menarikan Guro-guro Aron.

RADARSEMARANG.ID - Dalam suku Karo, Sumatera Utara dikenal sebuah tarian yang bernama Guro-guro Aron yang disingkat dengan GGA.

Tarian ini biasa dilakukan oleh muda mudi suku Karo untuk mempererat hubungan kekeluargaan.

Guro-guro Aron berasal dari dua kata, yaitu "Guro-guro" dan "Aron". Guro-guro bermakna senda gurau atau bermain, sedangkan Aron berarti muda-mudi (tidak terbatas usianya) dalam satu kelompok kerja untuk mengerjakan ladang.

Jika digabungkan, maka Guro-Guro Aron berarti pertunjukan seni budaya Karo yang dilakukan oleh para muda-mudi suku Karo yang berada di dalam kelompok kerja yang mengerjakan ladang dengan menampilkan gendang Karo dan perkolong-kolong (penyanyi) diiringi tarian para muda-mudi.

Perkumpulan pemuda-pemudi asal Karo yang ada di Kota Semarang dan sekitarnya, atau dikenal sebagai Rudang Mayang memainkan Guro-guro Aron di Balatkop dan UMKM Banyumanik Sabtu (14/10) lalu.

Kegiatan ini berlangsung di sela Kerja Tahun ras Gendang Guro-guro Aron sekaligus pelantikan pengurus Rudang Mayang Semarang. Sekitar 600 masyarakat Karo hadir dalam acara ini.

Dengan membawakan tema “Mburo Ate Tedeh “(Bersatu Kita Teguh), Ketua Panitia Kerja Tahun ras Gendang Guro-Guro Aron, Arya Imanuel Sinuraya mengatakan, acara ini menjadi harapan baru terhadap muda-mudi yang ada di Semarang agar tidak melupakan adat dan tradisi suku Karo.

“Dengan harapan masyarakat suku Karo di Semarang bisa bersatu untuk tetap mempertahankan dan memperkenalkan budaya di kota Semarang. Harapan saya untuk muda mudi Karo agar lebih memperhatikan dan lebih peduli serta agar tidak melupakan adat serta tradisi asli suku Karo” ucap Arya.

Dilansir dari laman Pemerintah Daerah Kabupaten Karo, Guro-guro Aron memiliki beberapa tujuan, antara lain:

1) agar ada yang dipertontonkan/ditampilkan.

2) agar anak muda bisa bertata rias dan memakai kain adat Karo.

3) agar anak-anak muda dapat menari diiringi musik Karo.

4) agar anak muda bisa mendapatkan jodoh.

5) agar anak muda rajin bekerja ke ladang untuk membeli uis (kain) dan biaya pesta Guro-Guro Aron.

6) mendoakan tanam-tanaman, anak ayam yang banyak, anak-anak cepat dewasa, yang dewasa tahu yang baik, yang sudah menikah semoga pernikahannya baik, yang muda mudi cepat dapat jodoh, yang sudah tua agar panjang umur, dan tidak sakit-sakitan.

7) agar anak muda belajar adat dan melayani tamu. Dan 8) agar anak muda belajar jadi pemimpin untuk mengatur Guro-Guro Aron.

Tari Lima Serangkai merupakan tari tradisional yang biasanya ditampilkan dalam kegiatan gendang Guro–guro Aron.

Keindahan dalam suatu tarian tidak terlepas dari unsur pembentukan, maka unsur pembentukan tarian tersebut adalah: gerak endek (gerak naik turun); gerak jole (gerak goyang badan); dan gerak lampir tan (gerak kelentik jari).

Tari Lima Serangkai merupakan suatu tarian yang diiringi lima gendang, yaitu gendang morah – morah, gendang perakut, gendang patam – patam sereng, gendang sipajok dan gendang kangkiung.

Tari Lima Serangkai diiringi lima gendang, yaitu gendang morah – morah, gendang perakut, gendang patam – patam sereng, gendang sipajok dan gendang kangkiung, yang menghasilkan komposisi pola gerak tari; dan gerak tersebut memiliki nilai – nilai estetis dalam penyajiannya. (mg20/ton)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#karo