RADARSEMARANG.ID, Semarang - Saat musim kemarau ini, banyak wilayah di Kota Semarang mengalami kekeringan. Apalagi, dengan adanya dampak el nino, beberapa daerah mengalami kesulitan air bersih selama beberapa bulan.
Kendati demikian, warga RT 1 RW 1 Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati tidak mengalami kekeringan. Mereka memanfaatkan Embung Patemon untuk irigasi pertanian, mengaliri kolam ikan, pemancingan, dan wisata gratis ketika musim kemarau ini.
Ada sejumlah remaja yang memanfaatkan keberadaan Embung Patemon untuk memancing. Salah satunya, Irwan, 14, bersama empat temannya memancing menggunakan umpan udang.
"Kami terbiasa memancing di sini sepulang sekolah, Alhamdulillah, di sini ada ikannya, ikan nila untuk lauk," katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (19/10) sore.
Selain itu, di sekitar embung, terdapat tiga kolam ikan milik warga yang masih dalam pembangunan. Air dari embung mengalir ke kolam ikan tersebut.
Tak jauh di sana, warga juga memanfaatkan embung untuk irigasi pertanian dan perkebunan pohon durian khas Gunungpati.
Beberapa wisatawan dan warga sekitar terlihat menikmati keindahan alam di sekitar embung sambil joging.
Lurah Patemon, Muhamad Khosim, menjelaskan Embung Patemon dibangun pada 2016. Memiliki luas 2000 meter persegi.
Ada 60 warga RT 1 RW 1 di sekitar Embung Patemon yang memanfaatkan Embung Patemon. Meskipun dimanfaatkan warga, air tetap penuh di Embung Patemon.
"Air mengalir dari Sungai Muntal menuju embung ini, kemudian dimanfaatkan warga ketika tumpah dari embung. Sehingga warga tidak terkena dampak kekeringan, masih aman dan masih mencukupi," katanya.
Selain itu, masyarakat dapat memanfaatkan wisata gratis, joging dan pemancingan warga sekitar.
Meski dalam pengelolaan BBWS, pihak kelurahan sejauh ini berupaya ikut mengguyubkan embung misalnya menghias mural dan ikut merancang wisata tambahan di dekat embung.
"Ya biasanya ada orang-orang mancing, jogging dan nyore biasa saja. Selebihnya untuk pengairan" sambungnya.
Sementara dari Pengelola Embung Patemon, Santoso memaparkan embung ini mendapat air dari berbagai sumber sungai-sungai seperti sumur jurang, Mangunsari, Pakintelan, dan Muntal.
Setelah mendapat dari sungai-sungai tadi, air ditampung terlebih dahulu sebelum disalurkan ke embung.
Setelah dari embung, di saat waktu normal, air kemudian baru disalurkan ke saluran-saluran irigasi dan sodetan."Embung ini punya daya tampung 1500 meter kubik. Saat ini ya naik turun," katanya.
Air dari embung tadi disalurkan ke sawah-sawah yang berada di bawah embung. Saat ini ada satu warga yang betul-betul memanfaatkan embung tersebut yakni Muhammad Nur Shodiq.
Saat ditemui, Shodiq menuturkan jika dirinya hendak membuat kolam ikan untuk wisata pemancingan. Pemancingan ini nantinya diberdayakan oleh warga sekitar.
Pemancingan itu dia buat di tanahnya sendiri yang awalnya digunakan sebagai sawah. Shodiq pun mengungkapkan jika dia memang berinisiatif membuat kolam ikan untuk pemancingan.
Pemanfaatan ini katanya dilakukan karena air dari Embung Patemon bisa digunakan meskipun musim kemarau.
"Ya memang kalau siang agak kurang lancar tapi itu wajar. Namun saat sudah sore dan masuk malam, air kembali meninggi dan bisa memenuhi aliran air untuk kolam saya," katanya.
Dia ingin memanfaatkan tanahnya itu untuk membuat pemancingan seraya memberdayakan masyarakat sekitar.
"Harapannya bisa memberdayakan warga dan pemasukannya nanti bisa digunakan untuk bersama-sama syukur-syukur menambah lapangan kerja. Kemudian juga saya ingin seperti tempat wisata di Semarang yang diberdayakan oleh warga," katanya.
Untuk saat ini pemancingan bikinannya sedang dirintis dan rencananya akan siap pada bulan Desember.
"Saat ini kolamnya sudah jadi. Kami akan membuat akses ke lokasi. Nanti akan kami isi dengan ikan nila dan lele," ujarnya.
Embung Patemon adalah salah satu dari Gerakan Seribu Embung yang digagas eks Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sejak 2015.
Saat ini, sebanyak 1.135 embung telah dibangun di Jawa Tengah dan akan terus ditambah.
Saat itu Ganjar mengatakan, meski targetnya telah tercapai, namun pihaknya akan terus membangun embung.
Keberadaan embung, kata Ganjar, besar manfaatnya untuk masyarakat lantaran Jawa Tengah kerap dilanda bencana kekeringan saat musim kemarau, dan banjir saat musim hujan.
Air yang ditampung dalam embung dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah saat musim kemarau, dan menyediakan sumber air baku untuk warga.
Apalagi, sebagai salah satu lumbung pangan di tanah air, Jawa Tengah harus menjaga produktivitas pertaniannya.
Sementara, saat musim hujan, embung berfungsi sebagai penampung air dan pengendali banjir. “Embung ini menjadi solusi persoalan kebutuhan irigasi dan air baku,” ujarnya.
Ganjar mengatakan, anggaran pembangunan embung bersumber dari APBN dan APBD Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Pembangunan embung yang didanai APBN dikerjakan oleh BBWS (141 unit), dan Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah (512 unit).
Pembangunan yang didanai APBD Jawa Tengah dilakukan secara gotong royong oleh Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (74 unit), Dinas Pertanian dan Perkebunan (4 unit), dan pemerintah kabupaten/ kota (11 unit).
Jawa Tengah juga mendapat Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat untuk membangun 390 embung, dan hibah CSR perusahaan sebanyak 3 unit.
“Pembuatan embung tetap jalan terus sampai hari ini. Makanya kalau ada ruang-ruang sisa, maka kita manfaatkan,” tuturnya. (fgr/web/bas)
Editor : Baskoro Septiadi