RADARSEMARANG.ID, Semarang - Belakangan ini, beberapa daerah di Indonesia mengalami peningkatan suhu. Termasuk cuaca Kota Semarang yang semakin terasa lebih panas dari bulan-bulan sebelumnya.
Salah satu pemicunya adalah efek fenomena clear sky (langit tanpa awan). Padahal pertengahan September lalu, Kota Semarang sempat beberapa kali diguyur hujan lumayan lebat.
Forecaster (Prakirawan) Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang Rani Puspita Eka Wati mengungkapkan, suhu yang semakin panas dirasakan oleh masyarakat lantaran minimnya tutupan awan di langit. Sehingga sinar matahari mengenai permukaan bumi secara langsung.
"Jadi sampai sini itu langsung panas banget, itulah kenapa pada siang hari terasa sangat panas," terangnya saat ditemui di kantornya pada Senin (2/10).
Namun demikian, menurut Rani, kisaran suhu saat ini masih di ambang batas normal. Berdasarkan catatan data, suhu masih berkisar 27-37 derajat celsius. Sementara tingkat kelembaban udara berkisar 30-75 derajat.
Biasanya masyarakat akan merasakan puncak suhu tertinggi pada siang hari yakni pada pukul 13.00-14.00 WIB.
“Puncak musim kemarau sebenarnya Agustus-September. Namun suhu tinggi masih dirasakan di bulan ini bisa mencapai 39,5 derajat celsius,” terang Rani.
Ia menambahkan, meningkatnya suhu di Kota Semarang juga dipengaruhi oleh proses peralihan musim (pancaroba).
Dari musim kemarau ke musim penghujan. Diprediksi, sampai Oktober nanti kemungkinan suhu panas masih akan dirasakan oleh masyarakat.
Dijelaskan, sebagian besar wilayah Indonesia terutama Jawa Tengah saat ini memasuki fase peralihan musim. Seiring dengan kondisi itu, rata-rata wilayah Indonesia mengalami kenaikan suhu.
Meskipun, beberapa wilayah sudah mengalami hujan namun jumlah dan curah hujan tidaklah banyak. "Itu biasanya terjadi di daerah pegunungan atau dataran tinggi," imbuhnya.
Ditanya soal El Nino, Rina mengatakan masih ada namun pengaruhnya tidak dialami di seluruh Indonesia. Termasuk di Semarang, pengaruhnya tidak secara langsung karena memang sudah masa peralihan musim.
"Rata-rata wilayah Jawa Tengah mengalami musim hujan pada November tapi sebagian wilayah terutama pegunungan (atau bagian tengah) sudah mengalami hujan sejak Oktober," jelasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang M. Abdul Hakam menyarankan masyarakata untuk menambah konsumsi air untuk mencegah dehidrasi saat suhu panas.
“Biasanya dalam konsumsi normal, hanya dua liter saja. Tapi karena ini panas sangat ektrem harus ditambah konsumsinya, misalnya setengah atau satu liter saat kegiatan di luar,” katanya Senin (2/10).
Bagi warga yang sedang melakukan diet, pihaknya menyarankan untuk ditunda. Dikarenakan, kondisi panas ekstrem menuntut tubuh terus diisi dengan makan secara teratur.
Selain itu, juga dianjurkan untuk mengkonsumsi vitamin yang membantu kekebalan tubuh naik misalnya vitamin C, Vitamin B dan B Kompleks.
Lebih lanjut Hakam memaparkan, dehidrasi tinggi bisa menyebabkan seseorang hilang konsentrasi.
Orang yang tidak merehidrasi dengan cairan normal berisiko ke arah diabetes. Misalnya, minum dengan kadar gula tinggi saat mengalami dehidrasi sangat berisiko mengidap diabetes.
“Kalau terkena dehidrasi dan punya penyakit diabetes, jangan asal minum. Biasanya, pokoknya dingin tapi ternyata di dalamnya kadar gula tinggi. Ini berisiko kegawatan orang diabetes,”tambahnya.
Selain diabetes, menurut dia, cuaca panas juga saat ini masyarakat juga harus waspada terhadap infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan diare. Jika tidak ditangani dengan baik, bisa menjadi infeksi paru-paru atau pneumonia.
Hakam menjelaskan, kondisi panas memunculkan polutan-polutan berbahaya yang diteliti setiap bulan seperti karbondioksida, nitrogen dioksida, debu-debu particulary matter (PM) 10 dan PM 2,5.
“PM 10 dan 2,5 ini yang di 16 kecamatan kondisinya itu di level sedang dan merah. Nah debu-debu PM 10 dan 2,5 itu kalau memapar kita manusia bisa menyebabkan radang di tenggorokan. Kalau masuk di saluran mata jadi keruh,” jelasnya. (mia/den/ton)
Editor : Baskoro Septiadi