RADARSEMARANG.ID - Berawal dari Festival Layang-layang, Kelurahan Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan kini mulai menjamur Komunitas Layangan.
Salah satu komunitas yang ada adalah Komunitas Layang-layang Kreasi Tlogomulyo. Komunitas ini dimotori remaja Kelurahan Tlogomulyo.
Namun kini banyak yang sudah bergabung, mulai dari anak-anak maupun orang dewasa.
Terlebih musim kemarau seperti sekarang ini, banyak dimanfaatkan mereka yang hobi layangan untuk narik benang layangan.
“Kemarau ini menjadi musim layangan di Tlogomulyo. Berbagai kreasi layangan muncul untuk unjuk kreasi dan kreativitas,” kata Koordinator Koordinator Festival Layang-layang Kreasi, Widarto.
Pihaknya menggaet LPMK, Kelurahan, dan tokoh masyarakat agar bergerak bersama mewadahi untuk penghobi layang-layang. Kini hampir semua tergerak. Bahkan warga yang awalnya acuh, kini mulai membuat layangan.
“Warga membuat layang-layang kreasi bahkan laku dijual harga Rp 50 - 70 ribu,” tuturnya.
Gayung bersambut, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif LPMK Tlogomulyo, Adi Nugroho, mengakui ide cemerlang menjadikan Tlogomulyo sebagai pusat kreasi layangan dan membuat festival layangan.
Awalnya Nugroho mengaku sempat pesimis. Tapi ternyata hasilnya meriah. Bahkan bisa menjadi ikon Kelurahan Tlogomulyo nantinya.
"Di luar dugaan, ada 80 peserta Festival Layang-layang Kreasi. Bahkan, dari kelurahan lain ikut hadir," katanya.
Rencananya, Oktober nanti, tepatnya pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, pihaknya merencanakan untuk membuat event lebih besar. Nantinya dipadukan dengan festival Budaya Semarangan.
Berbagai jenis layang-layang kreasi yang berbentuk burung hantu, cumi-cumi, kepiting, pesawat, dan banyak lainnya.
"Disini tidak ada mengadu kekuatan, tetapi kreativitas yang ditunjukkan dengan keindahan yang tidak mengandung unsur sara,” ujarnya.
Salah satu kreator layang-layang, Sutiman. Warga RT 4 RW 4 ini membuat layang-layang kreasi secara gotong royong.
Baik remaja hingga bapak-bapak, mereka berjumlah 10 orang membuat layang-layang untuk meramaikan Festival Layang-layang Kreasi.
"Kami memiliki komunitas dari anak-anak, remaja, hingga bapak-bapak," ujarnya.
Lurah Tlogomulyo, Sudarsih, mendukung kegiatan layang-layang kreasi. Karena menggali potensi warga dalam hal kreativitas.
Selain itu, Festival Layang-layang Kreasi dapat menjadi ajang silaturahmi, dan sekaligus perputaran ekonomi warga.
"Jadi mereka kreatif menggunakan bahan plastik bekas dimanfaatkan menambah ekonomi, sehingga mengurangi sampah," jelasnya. (fgr/bud)
Editor : Baskoro Septiadi