RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kuda lumping menjadi salah satu kesenian yang hingga saat ini masih banyak digemari oleh berbagai kalangan masyarakat khususnya di Kota Semarang.
Salah satu kelompok kuda lumping yang masih eksis hingga saat ini adalah Turonggo Tunggak Semi yang merupakan binaan warga Kampung Budaya Jurang Blimbing, Tembalang, Kota Semarang.
Ketua paguyuban Kuda Lumping Turonggo Tunggak Semi, Supriyanto mengatakan anak-anak di kampung ini memiliki ketertarikan yang tinggi untuk berlatih kesenian kuda lumping. "Awalnya mereka hanya menonton saja," tambahnya.
Ia menyebut, kesulitan dalam menghadapi anak-anak ketika berlatih kuda lumping terletak pada gerakan, dimana anak-anak ketika diberi gerakan yang sedikit lebih sulit mereka menjadi malas. "Untuk itu, sebagai pelatih harus tegas dan sabar," jelasnya.
Kuda Lumping Turonggo Tunggak Semi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan kuda lumping yang berasal dari daerah lain.
"Semua kesenian membawakan ciri khas daerah masing-masing. Jadi, kalau Semarang itu lekat dengan kesederhanaan berbeda dengan kuda lumping daerah lainnya yang mungkin lebih detail gerakannya," bebernya.
Kesenian yang dipupuk di Kampung Tematik Seni dan Budaya Jurang Blimbing ini, biasa melakukan latihan rutin setiap malam Sabtu.
Tidak hanya itu, pagelaran seni juga dilakukan setiap 3 bulan sekali di kampung tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya dan pegiat seni yang ada.
Lelaki berusia 42 tahun itu mengungkapkan, Kuda Lumping Turonggo Tunggak Semi sudah ada sejak tahun 1970 an kemudian berkembang hingga mendapatkan prestasi berupa kejuaraan festival kuda lumping tingkat Kota Semarang.
Adanya relokasi Undip membuat pegiat seni kuda lumping tersebar di berbagai daerah di Kota Semarang.
"Jadi, 80 persen pegiat seni Kuda Lumping Turonggo Tunggak Semi adalah orang baru," tuturnya.
Saat ini, anggota kelompok kesenian Kuda Lumping Turonggo Tunggak Semi berjumlah 40 orang yang mencakup masyarakat umum hingga mahasiswa dengan kisaran usia 8 tahun sampai 60 tahun.
Bervariasinya kalangan usia yang turut melestarikan kesenian tradisional ini, pegiat seni yang berusia 50-60 tahun termasuk orang lama.
Untuk itu, walaupun kebanyakan terisi orang baru, kesenian ini tidak pernah meninggalkan adat dan tradisinya.
Untuk menarik antusias penonton, Kuda Lumping Turonggo Tunggak Semi hadir dengan berbagai variasi gerakan. Selain mengutamakan pangsa pasar, kesenian ini juga tidak luput dari perhatian masyarakat.
Melihat perkembangan zaman yang semakin masif, kesenian tradisional turut menjadi buah bibir untuk dilestarikan.
Untuk itu, ketua Kuda Lumping Turonggo Tunggak Semi melakukan kerjasama dengan Undip hingga UKM Kesenian Jawa yang tersedia di Undip.
"Hal tersebut kami lakukan sebagai bentuk peningkatan kualitas kesenian kami, agar tetap hidup dan lestari di kampung budaya ini," ungkapnya. (mg15/mg14/bas)
Editor : Baskoro Septiadi