RADARSEMARANG.ID, Semarang - Menjelang HUT RI ke 78, pedagang bendera merah putih menjamur di Kota Semarang. Para penjual tersebar di berbagai tempat atau jalan-jalan protokol Semarang.
Penjual menjajakan benderanya dengan berbagai jenis yang berbeda, seperti bendera rumahan yang berbentuk kotak, umbul-umbul, bendera background, dan bendera bandir. Di lokasi yang strategis, para penjual mematok harga mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 250.000.
Salah satu penjual bendera di Jalan Letjen S Parman Semarang, Ridwan Husni mengatakan penjualan tersebut didasarkan atas ukuran bendera dan bahan yang digunakan.
“Ada beberapa jenis bahan bendera, ada satin, kain abutai (peles), bahkan tetoron. Ketiga jenis bahan tersebut yang paling bagus dan mahal dibanding lainnya adalah bendera berbahan kain tetoron,” terangnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang Kamis (3/8/2023)
Ridwan menambahkan, ukuran bendera yang dijualnya mulai dari 2,5 meter hingga 5 meter. Umumnya masyarakat membeli bendera umbul-umbul berukuran 3 meter, sedangkan bendera kotak biasanya paling banyak dibeli yang ukuran 1,5 meter untuk dipasang depan rumah.
Lelaki berusia 35 tahun ini mengungkapkan minat masyarakat terhadap bendera paling banyak jika dilihat dari awal bulan, kebanyakan membeli jenis umbul-umbul, namun jika sudah menjelang kemerdekaan kebanyakan pembelian terhadap bendera rumahan.
“Tapi, ya balik lagi sih, peminatnya semua sama tapi paling banyak ya umbul-umbul dan bendera kotak,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu anggota kelompok penjual bendera Citra Mandiri, Rizki Cahya menjelaskan penjual yang tersebar di Semarang kebanyakan secara berkelompok, termasuk dirinya.
Kelompok ini biasanya mengambil barang dari satu orang, yang nantinya akan diperjual belikan. “Disini saya berdelapan dan semuanya tersebar di area Banyumanik,” kata Rizki ditemui di wilayah Srondol Wetan, Banyumanik, Kota Semarang.
Menurutnya, penjualan bendera ini sangat membantu teman-teman yang menganggur atau bekerja serabutan. Karena kondisinya yang dapat dijangkau, setahun sekali memberikan ruang untuk berwirausaha.
Penjualan bendera dari tahun ke tahun mengalami penurunan secara drastis, termasuk tahun ini. Banyak dari penjual yang mengeluh ketika pendapatan tidak sepadan dengan beberapa tahun sebelumnya.
“Perubahan ini juga entah karena persaingan di online atau mungkin karena kurangnya jiwa nasionalisme masyarakat, saya juga bingung,” kata penjual bendera lainnya Taufik Chandra ketika ditemui di Jalan Ahmad Yani.
Menurutnya, sejak tahun 2008 ia berjualan di Semarang, baru tahun 2023 ini harga bendera menjadi anjlok sebab pasarannya sering dibandingkan dengan penjualan di online. “Dari tahun 2022 harga bendera turun 60 persen, namun tahun ini mencapai 70 persen,” jelasnya.
Penjual bendera di Semarang kebanyakan berasal dari Jawa Barat meliputi daerah Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.
“Saya sih dari Garut, karena pusat pengrajin bendera berasal dari Garut hingga didirikan monumen pengrajin bendera di Alun-alun Leles, Kabupaten Garut yang diresmikan oleh gubernur Jawa barat,” tandasnya. (mg15/mg14/bas)
Editor : Baskoro Septiadi