Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Tidak Perlu Panik, Begini Penjelasan BMKG Soal Dampak El Nino

Magang Radar Semarang • Minggu, 30 Juli 2023 | 19:33 WIB

  

Tris Adi Sukoco, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya BMKG Semarang.
Tris Adi Sukoco, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya BMKG Semarang.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa fenomena akan berakhir pada bulan Oktober. Musim kemarau tersebut juga membuat munculnya fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) atau yang biasa disebut El Nino

"Tidak perlu panik dengan informasi yang tersebar di medsos, masyarakat bisa langsung croscheck di aplikasi info BMKG untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat," ungkap Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya BMKG Semarang, Tris Adi Sukoco,  ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang Jumat (28/7/2023).

Fenomena El Nino hanya terjadi sesekali, bisa tiga tahun sekali muncul hingga tujuh tahun sekali.

"El Nino sebenarnya sebuah fenomena global yang terjadi karena interaksi antara lautan dengan atmosfer yang ditandai dengan menghangatnya perairan di sekitar Pasifik," ujarnya.

Sejauh ini, kata Tris, Kota Semarang tidak terlalu terdampak fenomena El Nino dibanding tiga tahun terakhir.

"Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kemarau tahun ini akan lebih panjang karena untuk tahun 2020 hingga 2021 terhitung kemarau di Semarang jangkanya pendek," jelasnya.

"Kemarau tahun ini memang akan lebih kering daripada tahun sebelumnya, tapi tidak lebih buruk dari tahun 2019 dan 2015," tambahnya.

Lelaki berkacamata itu mengungkapkan bahwa dampak dari fenomena El Nino biasanya terjadi pada bencana, pertanian, dan yang utama pada kesehatan.

"Ketika terdampak fenomena El Nino, kemungkinan besarnya, tingkat panas akan semakin naik, intensitas hujan bisa sampai 0, dan kemarau yang berkepanjangan hingga meningkatnya peluang terjadinya kebakaran lahan," imbuhnya.

Lebih lanjut, Tris Adi Sukoco mengatakan, antisipasi tidak hanya untuk pertanian  dan kesehatan saja, namun juga terletak pada pengelolaan irigasi yang tepat.

"Misalkan daerah yang memiliki bendungan perlu diperhatikan pembagian airnya, harus tepat dan sesuai, karena dalam musim kemarau ini pastinya kebutuhan akan air meningkat drastis," jelasnya.

Wilayah Semarang yang paling terdampak oleh kemarau adalah sepanjang pesisir Semarang. "Pantai Utara akan memiliki intensitas kekeringan yang cukup tinggi dibanding wilayah lainnya, untuk itu, masyarakat pesisir pantai Utara Semarang harus mempersiapkan segala hal untuk mengandapi cuaca ini," pungkasnya. (mg15/mg14/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#BMKG Semarang #CUACA #KEMARAU #el nino