RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ki Mulyono Hardjo Widodo, merupakan seniman sekaligus perajin wayang kulit di Kota Semarang.
Puluhan tahun, ia konsisten melestarikan kesenian tradisional tersebut. Wayang asalnya dari Jawa, dan para leluhur dengan kreatifitasnya menciptakan seni yang disebut dengan wayang.
Terlahir dari keturunan seniman tradisional, ia sudah belajar menjadi dalang sejak kelas 5 SD. Sementara hobinya membuat wayang kulit ditekuni sejak masih SMP. Ia pernah meraih Juara 2 Lomba Tatah Sungging atau pembuatan Wayang Kulit Nasional tahun 1995.
Sudah ada sekitar 350 wayang lebih yang ia buat. mulai dari wayang Raksasa, Gareng, dan sebagainya. Untuk wayang harus sangat diperhatikan adalah Gesture dari Wayang atau Bentuk Badannya.
Karakter dari sebuah wayang pasti memiliki beberapa Gesture atau bentuk badannya yang berbeda. Seperti Arjuna yang memiliki banyak sekali Gesture dan Bentuk.
Darah seniman tradisional dalam dirinya karena faktor keturunan. Keluarga Mulyono semuanya sudah menekuni dan melestarikan kesenian tradisional. Mulai dari dalang, pelestari gamelan, pembuat wayang kulit dan kebudayaan jawa lainnya.
“Kalau saya sudah keturunan ke – 17. Semua keluarga memang jadi seniman tradisional. Kalau kita tidak melestarikan, lalu siapa lagi,” aku Mulyono kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Ia mengakui tidak mudah untuk melestarikan kesenian tradisional. Bahkan, sejak dulu untuk menjadi seorang dalang harus diruwat. Hilangkan aura negatif lewat agar memiliki jiwa yang suci dan bersih. Saat pentas, ia kerap membawakan kisah Perang Bharatayudha dan Ramayana.
Untuk menjadi dalang harus menguasai berbagai seni. Mulai seni lukis, tari, musik, seni rupa, seni sastra, dan seni keterampilan.
“Itu modal agar karakter dan cerita yang ditampilkan dalam dunia wayang bisa seolah-olah cerita sungguhan. Tidak mudah, apalagi sekarang anak-anak muda kurang tertarik dengan wayang,” akunya.
Meski begitu, Mulyono terus berusaha melestarikan kesenian tradisional. Ia bahkan memiliki sanggar sejak 9 tahun lalu dan tetap eksis. Dikelola bareng istri, sanggar menggelar latihan setiap Sabtu.
Biasanya akan lebih rutin jika ada event atau perlombaan. “Jumlah anggotanya ada 30 orang. Sanggar ya untuk berlatih menari, karawitan, tembang macapat dan lain sebagainya,” tambahnya.
Untuk pembuatan wayang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Tergantung bentuk atau karakter yang dibuat. Dengan bahan utama kulit kerbau.
Prosesnya cukup panjang. Mulai menjemur, membersihkan, mengeringkan hingga proses produksinya. Tidak sembarang orang bisa membuatnya.
“Kalau untuk perawatan wayang kulit biasanya harus di angin-anginkan ditempat terbuka dan diusap-usap untuk membersihkan debu-debu atau jamur yang menempel. Itu agar wayang bisa awet bertahun-tahun,” tambah Mulyono.
Wayang kulit di Jawa merupakan kebudayaan yang paling maksimal. Tidak ada yang bisa menciptakan dan menyaingi maha karya tersebut. Keindahan karakter setiap tokoh-tokohnya maupun hal-hal pendukung pertunjukan.
“Mulai dari tabuhan gamelan yang mengiri pertunjukan, hiasan atau set panggung wayang kulit, hingga nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam alur ceritanya,” tambahnya. (Magang/fth)
Editor : Baskoro Septiadi