RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Malam belum terlalu larut. Di bawah sinar rembulan, sejumlah anak berlarian di halaman. Tawa pecah saat mereka bermain petak umpet. Ada yang bersembunyi, lainnya sibuk mencari.
Kegembiraan itu mendadak terenggut. Ruang bermain mereka berubah menjadi lautan sampah. Plastik menggunung dan berserakan. Anak-anak hanya bisa berdiri kebingungan. Tempat yang semula menjadi ruang bermain kini tak lagi tersisa.
“Dunia anak adalah dunia bermain, dunia anak penuh dengan kenangan. Tapi semua dipengaruhi lingkungan,” ujar sosok manusia sampah.
Baca Juga: Bansos Akhir Tahun 2026 Mulai Masuk Rekening, Cek Jadwal Cair KKS BRI, BNI, Mandiri Hari Ini
Kritik kemudian mengarah tajam pada ketergantungan manusia terhadap plastik. “Saya adalah sampah, sampah plastik. Sampah bukan sampah masyarakat. Meski telah berulang kali dibersihkan dan setiap jam disapu, saya akan selalu ditakdirkan menyelimuti bumi karena kalian manusia telah gila plastik,” teriak manusia sampah.
Sosok itu kembali tertawa. Plastik disebut telah mengepung kehidupan manusia dari berbagai sisi. “Usiaku telah puluhan tahun. Aku ada sejak Indonesia merdeka. Aku tidak bisa terurai karena aku adalah sampah plastik,” katanya.
Adegan satir tersebut dimainkan Teater Gedebus dalam acara Ruang Sisa: Salatiga Tercekik Sampah yang digagas Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jumat (16/10/2026) malam. Tak hanya pentas teater, kegiatan tersebut juga menghadirkan diskusi bersama Erick Darmawan dari Kerja Kreatif Akar Rumput dan Titi Permata dari Komunitas Soramata.
Ketua Kegiatan Ruang Sisa: Salatiga Tercekik Sampah, Kheren Dian Renata mengatakan, kegiatan tersebut lahir dari kegelisahan mahasiswa melihat perilaku manusia yang terus memproduksi sampah, tetapi minim kesadaran untuk memilah dan mengolahnya. “Acara ini diadakan karena keresahan kami atas perilaku manusia yang memproduksi sampah, tanpa ada niat memilah dan mengolah,” ujarnya.
Menurut Kheren, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan membersihkan tumpukan yang sudah ada. Kesadaran mengurangi produksi sampah harus tumbuh dari masyarakat. Karena itu, kegiatan tersebut diharapkan memantik kesadaran kolektif mahasiswa maupun masyarakat untuk menjaga lingkungan dan mengurangi sampah.
Dekan Fiskom UKSW Salatiga Sri Suwartiningsih menilai kritik sosial melalui ruang kreatif seperti teater perlu terus diberikan tempat. Kreativitas mahasiswa, kata dia, dapat menumbuhkan sikap kritis sekaligus kepekaan terhadap persoalan di sekitarnya. “Dengan demikian mahasiswa bisa menjadi agen perubahan yang membawa ke arah lebih baik,” tandasnya.
Editor : Baskoro Septiadi