AI Masuk Pendidikan Musik, Buku Logika Bunyi Soroti Posisi Tradisi Nusantara

Dhinar Sasongko • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:58 WIB
Irniatie dan bukunya, Logika Bunyi
Irniatie dan bukunya, Logika Bunyi

RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara pengetahuan musik diproduksi dan ditransmisikan. Di tengah perubahan itu, tradisi musikal Nusantara didorong tidak sekadar menjadi objek pembelajaran, tetapi diakui sebagai sistem pengetahuan yang memiliki kedudukan setara.

Persoalan tersebut menjadi salah satu bahasan dalam buku Logika Bunyi dan Transmisi Pengetahuan: Silsilah Filosofis Pendidikan Musik karya Irniatie Wanda, S.Pd., M.A.P. dan Dr. MS Viktor Purhanudin, M.Pd. Buku tersebut resmi terbit Senin (12/10).

Irniatie merupakan pegawai Kementerian Kebudayaan sekaligus mahasiswi doktoral ISI Surakarta. Sedangkan Viktor merupakan Sekretaris Prodi PIAUD UIN Salatiga. Buku terbitan CV Literasi Langsung Terbit dengan ISBN 978-634-7733-88-7 itu membedah pendidikan musik dari perspektif filsafat.

Pembahasannya tidak berhenti pada metode mengajar, kurikulum maupun evaluasi. Kedua penulis justru menarik persoalan ke hulunya: apa yang disebut pengetahuan musik, bagaimana pengetahuan itu diwariskan, serta siapa yang memiliki otoritas menentukan pengetahuan musikal yang dianggap sah.

“Buku ini mengajak pembaca melihat pendidikan musik dari lapisan yang lebih dalam. Kita perlu memahami apa yang disebut pengetahuan musik, bagaimana pengetahuan itu dipelajari, serta apa yang mungkin hilang ketika pengetahuan tersebut ditransmisikan,” kata Irniatie.

Baca Juga: Satu Dekade IKASMANSSA, 500 Peserta Berlari Sambil Bersihkan Salatiga

Buku tersebut membedah tiga dimensi pengetahuan musikal, yakni knowing-that, knowing-how, dan knowing-who. Ketiganya mencakup penguasaan teori, keterampilan tubuh, pengalaman hingga relasi sosial dalam kehidupan musikal. Konsep tacit knowledge turut digunakan untuk membaca pengetahuan yang tidak seluruhnya dapat dituangkan melalui bahasa maupun sistem formal.

Jejak pendidikan musik kemudian ditarik panjang, mulai pemikiran Pythagoras, Abad Pertengahan, Renaisans, konservatori modern, metode pendidikan musik abad ke-20, postmodernisme hingga dekolonisasi. Perubahan terbaru berupa algoritma dan AI juga masuk dalam pembahasan karena dinilai ikut menggeser cara manusia memperoleh dan mentransmisikan pengetahuan musik.

Viktor mengatakan, buku tersebut menggunakan filsafat analitis untuk membedah konsep pengetahuan, transmisi dan otoritas epistemis. Sementara genealogi kritis digunakan untuk menelusuri bagaimana konsep-konsep tersebut terbentuk sepanjang sejarah dan dipengaruhi relasi kuasa.

“Setiap sistem pendidikan membawa cara tertentu dalam menentukan pengetahuan yang dianggap sah dan layak ditransmisikan,” ujar Viktor.

Konteks Indonesia mendapat porsi khusus. Tradisi musikal Nusantara didorong memiliki kedudukan epistemis dalam pendidikan, bukan hanya ditempatkan sebagai pelengkap sistem pendidikan musik yang telah mapan. Irniatie berharap cara pandang tersebut dapat membuka pendidikan musik Indonesia yang lebih plural dan kritis, sekaligus tetap berakar pada kekayaan Nusantara ketika berhadapan dengan perkembangan teknologi dan AI.

Editor : Baskoro Septiadi
viktor purhanuddin irniatie wanda logika bunyi