RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Dari ruang belajar di Salatiga, inovasi siswa RUQ Al Falah melangkah ke panggung internasional. Sembilan santri SMP dan MA RUQ Al Falah membawa game edukasi berbasis virtual reality (VR) bernama Virewaste ke World Invention Competition and Exhibition (WICE) di Selangor, Malaysia.
Kompetisi internasional tersebut berlangsung 20–24 September 2026. Virewaste dihadirkan sebagai inovasi edukasi untuk mengajak pemain memahami sekaligus mencari solusi atas persoalan lingkungan.
Yang membuat game ini berbeda, pemain tidak sekadar disuguhi materi tentang lingkungan. Mereka harus menghadapi simulasi persoalan, menganalisis masalah, menentukan solusi, kemudian melihat dan mengevaluasi dampak dari keputusan yang diambil.
Sebanyak sembilan santri diterjunkan dalam kompetisi tersebut. Enam berasal dari SMP RUQ Al Falah, yakni Maulana Rosa Astaghis, Ridho Widhi Athmar, Misbakhussurul Al Syarif, Arfa Najma Zhafira, Raflis Fahimatul Ifra, dan Anisa Nurmah Hidayah. Tiga santri lainnya berasal dari Madrasah Al Falah.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP RUQ Al Falah Salatiga Nur Aini Dewi Rahmawati mengatakan, Virewaste lahir dari keresahan terhadap persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
“Virewaste tidak hanya memberikan pengetahuan lingkungan, tetapi juga mengasah kemampuan pemain untuk memecahkan masalah lingkungan,” ujarnya saat pemberangkatan tim di Pondok Pesantren RUQ Al Falah Salatiga, Sabtu malam (19/9).
Menurutnya, persoalan lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan. Anak-anak perlu dibiasakan melihat masalah, menganalisis penyebab, menentukan pilihan, sekaligus mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan yang dibuat.
“Kami ingin membangun kemampuan anak-anak agar sejak dini pandai menganalisis dan merespons sebuah permasalahan lingkungan,” katanya.
Persiapan menuju kompetisi di Malaysia pun dibuat serius. Para santri tidak hanya mengembangkan game, tetapi juga menjalani latihan bahasa Inggris, pengembangan aplikasi, penyajian data, hingga presentasi penelitian.
Virewaste juga telah melalui proses uji coba untuk melihat fungsi dan penerapannya sebagai media pembelajaran. Sekolah berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai karya untuk mengikuti lomba.
“Virewaste diarahkan menjadi media edukasi yang dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian siswa terhadap lingkungan,” terangnya.
Maulana Rosa Astaghis mengatakan, Virewaste berangkat dari persoalan lingkungan yang semakin kompleks di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Menurut dia, persoalan tersebut tidak cukup dihadapi hanya dengan pengetahuan mengenai lingkungan.
“Tidak hanya membutuhkan environment knowledge, tetapi juga membutuhkan skill menganalisis masalah, memberikan solusi, dan mengevaluasi dampaknya,” ujarnya.
Melalui Virewaste, para santri RUQ Al Falah ingin menunjukkan bahwa edukasi lingkungan bisa dikemas lebih interaktif. Game yang lahir dari ide siswa Salatiga itu kini dibawa ke Malaysia untuk berhadapan dengan inovasi dari berbagai negara.
Editor : Baskoro Septiadi