Wali Kota Robby: Humor Bisa Jadi Perekat Keberagaman

Dhinar Sasongko • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 14:07 WIB
Open mic oleh Mukmin didepan keluarga besar UIN Salatiga
Open mic oleh Mukmin didepan keluarga besar UIN Salatiga

RADARSEMARANG.ID, Salatiga - Humor tak hanya soal membuat orang tertawa. Di tengah keberagaman, humor bisa menjadi ruang perjumpaan untuk mencairkan perbedaan dan memperkuat kebersamaan.

Hal itu disampaikan Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan SpOG saat menghadiri Seminar Nasional Humor dan Grand Final Clash of Comedy di Aula Lantai 3 UIN Salatiga, Kamis (10/9).

Robby hadir bersama Ketua TP PKK Kota Salatiga Retno Robby Hernawan. Kegiatan bertema “Tertawa Bersama Indonesia Bersatu: Antara Humor, Keberagaman, dan Identitas” tersebut menjadi puncak rangkaian Festival Humor Salatiga.

Baca Juga: Tiga Cabor Pecah Telur, Kota Salatiga Juara 3 Popda Jateng

Menurut Robby, humor dapat ditempatkan sebagai instrumen sosial, bukan sekadar hiburan. Ruang ekspresi positif seperti stand-up comedy dinilai mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang sekaligus menjadi bagian dari perkembangan industri kreatif.

“Pemerintah Kota Salatiga sangat mendukung ruang-ruang ekspresi positif seperti ini sebagai bagian dari industri kreatif yang berkembang pesat. Kepada para finalis, kalian semua sudah menang karena berhasil membuat orang lain tersenyum di tengah masa-masa sulit,” ujar Robby.

Ia menegaskan, keberagaman dan toleransi yang menjadi karakter Salatiga perlu terus dirawat melalui berbagai ruang interaksi positif. Humor yang disampaikan secara tepat dan beretika, kata dia, dapat mencairkan sekat perbedaan.

“Salatiga sebagai Kota Tertoleran di Indonesia membutuhkan ruang-ruang seperti ini. Kita bisa bertemu, tertawa bersama, dan pada akhirnya semakin mengenal satu sama lain. Dari situ, kedekatan dan persaudaraan bisa tumbuh,” katanya.

Seminar nasional menghadirkan Prof. Dr. Miftahudin MAg sebagai narasumber. Ia membahas humor dari perspektif sosial, termasuk kebebasan berekspresi seorang komika. Ia juga mengangkat Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai figur yang dikenal memiliki humor inklusif.

Menurut Prof Miftahudin, humor dapat membuat komunikasi lebih cair, tetapi tetap membutuhkan batas etika. Kebebasan berekspresi tidak boleh menjadikan individu atau kelompok lain sebagai sasaran penghinaan.

Ketua Panitia Ali Sofyan mengatakan Festival Humor Salatiga berangkat dari refleksi mengenai kekuatan humor dalam menjaga kerukunan masyarakat majemuk. Humor yang cair dinilai bisa menjadi medium alternatif untuk membicarakan perbedaan dan persoalan sosial secara lebih ringan.

Festival tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai panggung hiburan. Humor ingin didorong menjadi ruang komunikasi yang ikut memperkuat toleransi, persaudaraan, dan karakter Salatiga sebagai kota yang hidup dalam keberagaman.

Editor : Baskoro Septiadi
prof Miftahuddin Robby Hernawan UIN Salatiga