Berawal dari Keluhan Pemandu Wisata, Dosen UKSW Bongkar Tokenisme Branding Labuan Bajo

Dhinar Sasongko • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 20:28 WIB
Dr Rini Hudiono dalam prosesi yudisium pada Senin pagi
Dr Rini Hudiono dalam prosesi yudisium pada Senin pagi

 

RADARSEMARANG.ID, Salatiga – "Kami diajak menari, tapi tidak diajak bicara." Kalimat yang dilontarkan seorang pemandu wisata di Labuan Bajo itu justru menjadi titik tolak riset Dr. Rini Kartika Hudiono, S.Pd., M.A. Hingga akhirnya, dosen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) tersebut sukses meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude.

Rini mempertahankan disertasinya dalam sidang Promosi Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin UKSW, Senin (3/8). Ia lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00.

Lewat disertasi berjudul Branding dalam Tata Kelola Destinasi: Dinamika Keterlibatan Masyarakat Lokal di Labuan Bajo,  Rini mengupas sisi lain pembangunan destinasi super prioritas tersebut. Bukan soal keberhasilan menarik wisatawan, melainkan minimnya ruang masyarakat lokal dalam menentukan identitas daerahnya sendiri.

Baca Juga: Komplotan Curanmor Kelompok Blok M Demak Diringkus di Semarang, Sehari Gasak Tiga Motor di Genuk 

Temuan risetnya menunjukkan warga selama ini lebih banyak dilibatkan secara simbolis. Mereka hadir dalam berbagai agenda promosi, tetapi tidak memiliki posisi untuk memengaruhi kebijakan. Fenomena itu disebut tokenisme atau partisipasi yang hanya sebatas formalitas.

"Masalahnya bukan masyarakat tidak mampu, tetapi sistem belum memberi ruang bagi mereka untuk ikut mengambil keputusan," tegas Rini.

Penelitian dilakukan selama sembilan bulan dengan melibatkan 30 pelaku pariwisata, mulai pemandu wisata, operator tur, pemilik kapal, pengelola akomodasi hingga organisasi pendamping dan pemerintah daerah.

Rini menemukan, identitas destinasi tidak semata dibangun melalui strategi pemasaran. Kearifan lokal, identitas masyarakat, dan pengalaman warga justru menjadi fondasi utama agar sebuah branding mendapat legitimasi sosial.

Karena itu, ia menawarkan pendekatan combined approach. Pemerintah tetap menjadi penggerak dalam pembiayaan dan koordinasi, namun masyarakat harus dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga penentuan identitas destinasi.

Menurutnya, destinasi wisata memang bisa sukses di pasar dan memperoleh dukungan pemerintah. Namun tanpa penerimaan masyarakat lokal, keberlanjutan destinasi akan sulit terjaga.

"Menempatkan masyarakat lokal sebagai pihak yang ikut membentuk branding bukan sekadar pilihan etis, tetapi syarat keberlanjutan destinasi," ujarnya.

Dalam pidato usai promosi doktor, Rini menyebut proses menyelesaikan studi doktor bukan hanya perjalanan akademik, tetapi juga perjalanan iman. Ia belajar bahwa kepercayaan masyarakat dibangun melalui kehadiran dan kesediaan mendengarkan, bukan sekadar datang membawa program.

Baca Juga: Tabrak Tiga Motor Lalu Kabur, Pengemudi Agya di Semarang Akhirnya Menyerahkan Diri ke Denpom

Dekan Fakultas Interdisiplin UKSW Dr. Aldi Herindra Lasso, S.Pd., M.M.Par., Ph.D., mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan itu menjadi bukti riset UKSW tidak berhenti di ruang akademik, tetapi mampu menghadirkan rekomendasi bagi pembangunan yang lebih inklusif.

Editor : Baskoro Septiadi
rini hudiono labuan bajo UKSW Salatiga