IICF 2026 Dibuka, UKSW Satukan Budaya Nusantara dan Dunia di Salatiga

Dhinar Sasongko • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 17:19 WIB
Rektor UKSW bersama wali kota Salatiga dalam IICF
Rektor UKSW bersama wali kota Salatiga dalam IICF

RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Indonesian International Culture Festival (IICF) 2026 resmi dibuka di Lapangan Sepak Bola John Osok Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Selasa (28/7). Festival budaya tahunan yang digelar Senat Mahasiswa Universitas (SMU) UKSW itu kembali menegaskan identitas kampus sebagai "Indonesia Mini" sekaligus ruang perjumpaan budaya dari berbagai penjuru dunia.

Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan membuka langsung festival yang akan berlangsung hingga 30 Juli 2026. Tahun ini, IICF menghadirkan 20 partisipan etnis dari berbagai daerah di Indonesia, dua institusi seni nasional, yakni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, serta delegasi dari Jepang, Timor Leste, Madagaskar, India, dan Myanmar.

Ketua Umum SMU UKSW Kenneth Nathanael Timothy Puno mengatakan IICF tidak hanya menjadi panggung pertunjukan seni, tetapi juga media membangun dialog, persahabatan, dan saling memahami di tengah keberagaman budaya.

"Perbedaan bukanlah penghalang untuk saling mengenal, melainkan kesempatan untuk saling belajar," ujarnya.

Rektor UKSW Prof. Intiyas Utami menegaskan IICF telah berkembang menjadi agenda budaya yang dikenal hingga tingkat nasional dan internasional. Menurutnya, festival tersebut menjadi bukti nyata komitmen UKSW dalam menjaga keberagaman sekaligus menghadirkan dampak positif bagi masyarakat.

"IICF menjadi bukti UKSW sebagai kampus yang berdampak," tegasnya.

Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan mengapresiasi konsistensi UKSW dalam merawat nilai toleransi melalui keberagaman budaya. Ia mengajak generasi muda tidak sekadar menikmati pertunjukan budaya, tetapi juga memahami nilai dan filosofi di balik setiap tradisi.

"Bersatu bukan berarti melebur, tetapi menghargai dan menjaga budaya masing-masing sebagai harta yang tak ternilai," katanya.

Antusiasme juga datang dari para peserta. Pretty, perwakilan Himpunan Mahasiswa Alor (HIMASAL), mengaku bangga dapat memperkenalkan budaya Alor melalui makanan khas, moko sebagai warisan budaya, hingga rumah adat lopo kepada masyarakat.

Rangkaian IICF 2026 masih berlanjut pada Rabu (29/7) dengan penampilan band, tari tradisional, dan fashion show etnis. Sementara penutupan pada Kamis (30/7) akan dimeriahkan penampilan Moluccan Soul, komunitas seni dan budaya Indonesia Timur yang berbasis di Jakarta.

Melalui IICF 2026, UKSW kembali menegaskan perannya sebagai kampus multikultural yang tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang memperkuat persaudaraan, toleransi, dan kolaborasi budaya di tingkat nasional maupun internasional.

Editor : Baskoro Septiadi
iicf uksw prof intyas utami Robby Hernawan