RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Sebanyak 3.167 guru Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan Batch 4 Tahun 2025 resmi dikukuhkan sebagai guru profesional di Auditorium Student Center Prof. Dr. H. Achmadi, Kampus 3 UIN Salatiga, Sabtu (20/6).
Pengukuhan dihadiri Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) Wihaji. Dalam kesempatan itu, Wihaji menegaskan bahwa peran guru di era digital tidak lagi sebatas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan karakter dan nilai-nilai kehidupan kepada peserta didik.
Baca Juga: Komponen Utama Gaji ke 13 2026 PNS, PPPK, TNI, Polri, Pensiunan dan Pejabat Negara Apa Saja?
Menurutnya, kemajuan teknologi membuat anak-anak semakin mudah memperoleh informasi melalui internet maupun kecerdasan buatan (AI). Namun, pendidikan karakter tetap membutuhkan sentuhan manusia.
“Untuk mencari ilmu, anak-anak bisa memanfaatkan AI atau Google. Tetapi yang tidak bisa digantikan teknologi adalah transfer nilai. Guru memiliki tugas menanamkan karakter, moral, dan spiritualitas kepada peserta didik,” ujar Wihaji.
Alumni UIN Salatiga itu menilai tantangan yang dihadapi guru saat ini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Selain mengejar target kurikulum, guru juga harus menghadapi berbagai persoalan sosial yang memengaruhi perkembangan anak.
Mulai dari maraknya judi online, pornografi, perundungan siber (cyberbullying), hingga menurunnya kualitas komunikasi dalam keluarga akibat tekanan ekonomi.
Baca Juga: Terikat Janji Episode 77 Hari Ini: Detik-Detik Penangkapan Danang Setelah Sembunyi di Hotel
“Guru sekarang tidak hanya mengajar mata pelajaran. Mereka juga berhadapan dengan berbagai persoalan yang mengancam mentalitas anak-anak,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, Wihaji juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan UIN Salatiga.
Kerja sama itu bertujuan memperkuat pelaksanaan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) melalui jalur pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia menegaskan, keluarga dan sekolah harus berjalan beriringan dalam membangun generasi masa depan.
“Keluarga dan sekolah adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai jika keduanya berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.
Melalui kerja sama tersebut, program Bangga Kencana akan diintegrasikan ke lingkungan pendidikan. Wihaji berharap para guru dapat menjadi penghubung aktif antara sekolah dan orang tua.
“Saya titip pesan agar guru menjadi jembatan komunikasi dengan orang tua sehingga anak-anak tumbuh dalam keluarga yang bahagia dan lingkungan yang sehat,” ujarnya.
Rektor UIN Salatiga Prof. Zakiyuddin mengatakan pesan yang disampaikan Menteri Wihaji sangat relevan dengan tantangan pendidikan saat ini. Menurutnya, keberhasilan mencetak generasi emas tidak hanya ditentukan sekolah, tetapi juga kekuatan keluarga.
“Guru profesional harus hadir sebagai pengajar, pembimbing karakter, sekaligus penjaga nilai-nilai spiritual peserta didik,” katanya.
Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI M. Munir menegaskan bahwa sertifikat pendidik bukan sekadar dokumen administratif, melainkan simbol kompetensi dan tanggung jawab moral seorang guru.
“Guru harus menguasai konten keilmuan sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi. Sertifikat ini menjadi legitimasi kompetensi di tengah masyarakat,” ujarnya.
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga Rasimin menjelaskan seluruh peserta yang dikukuhkan telah lulus Uji Kompetensi Mahasiswa PPG (UKMPPG). Dari total 3.167 peserta, sebanyak 1.766 orang mengikuti prosesi secara langsung dan sisanya mengikuti secara daring.
Program studi Guru Kelas MI menjadi peserta terbanyak dengan 535 orang, disusul Guru Kelas RA sebanyak 371 orang. Selebihnya berasal dari program studi Bahasa Arab, Akidah Akhlak, Quran Hadis, Pendidikan Agama Islam, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam.
Rasimin juga menyebut lulusan termuda pada periode ini adalah Dewi Fatimah, guru MI asal Probolinggo yang lulus di usia 24 tahun. Sedangkan lulusan tertua adalah Talfiyati, guru PAI asal Salatiga yang berhasil meraih sertifikasi guru profesional di usia 58 tahun.
“Ini membuktikan bahwa dedikasi menjadi pendidik profesional tidak mengenal batas usia,” pungkasnya.
Editor : Baskoro Septiadi