RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Aroma dupa menyelimuti rumah Doni Prasetyo di kawasan Butuh, Kutowinangun Lor, Kota Salatiga, menjelang malam 1 Suro.
Di rumah sederhana tersebut, puluhan keris dari berbagai daerah berjajar rapi menunggu giliran menjalani ritual jamasan, tradisi tahunan masyarakat Jawa untuk membersihkan dan merawat benda pusaka.
Tradisi jamasan keris yang rutin dilakukan setiap malam 1 Suro itu menjadi momen penting bagi para pecinta dan kolektor pusaka.
Selain membersihkan bilah keris dari kotoran dan karat, ritual ini juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
Di atas meja, Doni telah menyiapkan berbagai perlengkapan jamasan, mulai dari jeruk nipis, air kembang hingga dupa yang terus menyala selama prosesi berlangsung.
Usai salat Isya, ia mulai membersihkan satu per satu keris milik warga yang dipercayakan kepadanya.
Dengan penuh ketelitian, jeruk nipis digosokkan ke bilah keris untuk mengangkat kotoran dan mengembalikan kilau logam.
Setelah itu, keris dicuci menggunakan air kembang sebelum dikeringkan dan dikembalikan kepada pemiliknya.
"Jamasan bukan hanya membersihkan fisik keris, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap pusaka yang memiliki nilai sejarah dan budaya," ujar Doni saat melakukan ritual jamasan.
Selama prosesi berlangsung, para pemilik keris tampak duduk bersila menyaksikan pusaka mereka dibersihkan.
Beberapa di antaranya turut memanjatkan doa sebagai bagian dari tradisi malam 1 Suro yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menurut Doni, setiap tahun jumlah keris yang dijamas selalu mencapai puluhan bilah.
Sebagian merupakan koleksi pribadi, sementara lainnya milik masyarakat yang ingin merawat pusaka keluarga agar tetap terjaga kondisinya.
Baca Juga: Ansor Salatiga Panaskan Mesin Organisasi Lewat Turnamen Sepak Bola Antar-PAC
Tradisi jamasan keris menjelang Tahun Baru Islam atau malam 1 Suro masih menjadi bagian penting dalam budaya Jawa.
Selain sebagai upaya pelestarian benda pusaka, ritual ini juga menjadi sarana menjaga nilai-nilai budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya.
Hingga larut malam, Doni masih sibuk menuntaskan pekerjaannya. Di bawah temaram lampu dan aroma dupa yang memenuhi ruangan, satu per satu keris dibersihkan sebagai simbol penghormatan terhadap warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Editor : Baskoro Septiadi