RADARSEMARANG.ID, Ambarawa – Aroma sejarah tak hanya terasa dari kokohnya bangunan Benteng Pendem Ambarawa. Di sudut kawasan wisata yang juga dikenal sebagai Fort Willem I itu, puluhan mobil antik berjajar rapi, mengajak pengunjung seolah kembali ke masa puluhan tahun silam.
Mulai dari Austin 7 keluaran 1928, Opel dan Opel Kadett tahun 1938, hingga Chevrolet C10 produksi 1960 menjadi koleksi yang paling mencuri perhatian. Cat yang mengilap membuat kendaraan-kendaraan lawas itu tampil prima, jauh dari kesan tua meski sebagian usianya mendekati satu abad.
Tak sekadar menjadi pajangan, mobil-mobil klasik tersebut juga diajak "bekerja". Wisatawan dapat merasakan sensasi berkeliling benteng dengan kendaraan antik yang masih terawat dan layak jalan.
Baca Juga: 39 Orang Terlibat Sindikat Love Scamming, 1 Diantaranya Mantan Artis Berinisial F
“Kalau hari libur atau akhir pekan bisa mencapai 100 trip,” ujar Wawan Santoso, kolektor sekaligus pegiat mobil antik yang memiliki ratusan kendaraan klasik.
Dalam satu kali perjalanan, satu mobil dapat mengangkut hingga lima penumpang. Layanan wisata keliling benteng itu beroperasi setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.
Menurut Wawan, pengalaman menaiki mobil antik menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Selain menikmati suasana bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda, pengunjung juga bisa merasakan sensasi berkendara menggunakan kendaraan yang menjadi saksi perjalanan zaman.
Di area paddock, puluhan mobil antik lainnya berjajar membentuk galeri terbuka. Banyak pengunjung memanfaatkan lokasi tersebut sebagai spot berfoto. Bodinya yang mengilap hasil restorasi dan pengecatan ulang membuat kendaraan-kendaraan itu tampak "glowing" di bawah sinar matahari.
Kehadiran wisata mobil antik tersebut menambah warna baru Benteng Pendem Ambarawa. Destinasi yang selama ini dikenal sebagai wisata sejarah kini juga menawarkan pengalaman otomotif klasik yang sulit ditemukan di tempat lain.
Bagi sebagian pengunjung, berkeliling benteng dengan mobil keluaran puluhan tahun lalu bukan sekadar rekreasi. Pengalaman itu menjadi perjalanan singkat menembus waktu, menyusuri lorong-lorong sejarah dengan kendaraan yang pernah berjaya pada zamannya.(sas)
Editor : Baskoro Septiadi