RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Kampus Universitas Islam Negeri Salatiga mendadak dipenuhi nuansa lintas budaya. Di tengah aktivitas perkuliahan yang biasa berjalan rutin, hadir delegasi Jawaharlal Nehru Indian Culture Center membawa semangat kolaborasi, peluang beasiswa, hingga pengenalan yoga sebagai gaya hidup sehat.
Bukan sekadar kunjungan seremonial, pertemuan itu membuka ruang baru bagi mahasiswa dan dosen untuk menatap dunia lebih luas. Bagi sebagian mahasiswa, informasi studi ke luar negeri kerap terasa jauh. Namun di ruang kampus itu, mimpi tersebut terasa lebih dekat.
Rektor Prof Zakiyuddin Baidhawy menyebut kehadiran delegasi India sebagai momentum penting memperluas cakrawala akademik. Menurutnya, India merupakan salah satu negara dengan tradisi keilmuan kuat dan sistem pendidikan kompetitif.
Baca Juga: SKTP Mei 2026 Terbit, Berikut Peran Pemerintah Daerah Terkait Pencairan TPG Guru Bulanan
“Terima kasih kepada Kedutaan Besar India yang telah hadir. Ini membuka kesempatan baru bagi mahasiswa dan dosen kami untuk melanjutkan pendidikan di India,” ujarnya.
Namun, perjumpaan hari itu tidak hanya bicara soal gelar akademik. Ada pesan yang lebih hangat: keterbukaan terhadap budaya lain. Zakiyuddin menegaskan, kampusnya ingin terus menjadi rumah yang ramah bagi keberagaman.
Nilai itu sejalan dengan identitas Salatiga yang kerap dikenal sebagai kota toleran. Di kota berhawa sejuk tersebut, perbedaan bukan sekadar slogan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Delegasi dipimpin Kamal Khurana yang memaparkan beragam program beasiswa dan kerja sama pendidikan. Penjelasan itu disambut antusias mahasiswa yang membayangkan menimba ilmu di negeri Taj Mahal.
Suasana kemudian berubah lebih cair saat peserta diajak mengikuti “Curtain Raiser 100 Days Countdown International Day of Yoga 2026”. Dipandu Sunil Karamchandani, mahasiswa dan dosen mencoba gerakan sederhana yoga.
Sebagian peserta terlihat kaku menirukan pose, sebagian lain tertawa kecil. Namun dari sesi singkat itu terselip pesan penting: di tengah tekanan tugas dan target akademik, kesehatan mental serta fisik tak boleh diabaikan.
Kunjungan tersebut juga meninggalkan jejak di perpustakaan kampus. Delegasi India meresmikan Indian Corner, sudut literasi berisi referensi sejarah, sastra, budaya, hingga teknologi India.
Sejumlah buku baru turut diserahkan untuk menambah koleksi. Bagi mahasiswa, rak-rak itu mungkin hanya tumpukan buku. Tetapi bagi kampus, itu adalah jendela kecil menuju dunia yang lebih luas.
Dari ruang-ruang kelas di Salatiga, mimpi baru tampaknya mulai tumbuh: ada yang ingin mengejar beasiswa, ada yang tertarik mempelajari budaya India, ada pula yang mungkin mulai mencoba yoga esok pagi.(sas)
Editor : Baskoro Septiadi