Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

102 Siswa SMPIT Nidaul Hikmah Salatiga “Puasa Gawai”, Delapan Hari Hidup Bareng Warga Desa

Dhinar Sasongko • Senin, 4 Mei 2026 | 10:36 WIB
Para siswa SMPIT Nidaul.Hikmah saat live in di desa Cendana
Para siswa SMPIT Nidaul.Hikmah saat live in di desa Cendana

 

RADARSEMARANG.ID, Salatiga — Saat banyak remaja makin sulit lepas dari layar gawai, ratusan siswa kelas IX SMPIT Nidaul Hikmah Salatiga justru diminta menjauh sejenak dari dunia digital.

Sebanyak 102 siswa mengikuti program pendidikan karakter bertajuk Live In di Desa Cendana, Kabupaten Purbalingga, selama delapan hari, 27 April hingga 4 Mei 2026.

Bukan sekadar study tour atau kemah biasa. Para siswa tinggal di rumah warga sebagai anak asuh. Mereka menjalani ritme hidup masyarakat desa secara langsung, mulai bangun sebelum subuh, membantu memasak, mencari kayu bakar, hingga turun ke sawah dan ladang.

Suasana itulah yang sengaja dihadirkan sekolah. Para siswa diajak merasakan kehidupan sederhana, jauh dari fasilitas instan yang biasa mereka nikmati sehari-hari.

Baca Juga: Kepsek SMPN 1 Salatiga Ditunjuk Jadi Plt Kadisdik, Wali Kota Tekankan Percepatan Layanan Publik

Guru pendamping kegiatan Ikhsan Fahmi menjelaskan, program *Live In* dirancang sebagai pembelajaran nyata yang tidak bisa diperoleh di ruang kelas.

“Tujuan utama kegiatan ini memutus sejenak ketergantungan anak-anak pada fasilitas instan dan gawai. Lewat interaksi langsung dengan keluarga asuh, kami ingin menumbuhkan empati, kemandirian, dan kemampuan memecahkan masalah,” ujarnya.

Menurut dia, pengalaman hidup bersama warga menjadi bekal penting bagi siswa sebelum melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya. Karakter, kata dia, tidak cukup dibentuk hanya lewat teori dan buku pelajaran.

Kehadiran para siswa juga disambut hangat masyarakat Desa Cendana. Kepala Desa Cendana Sujono menilai kegiatan tersebut membuka ruang perjumpaan antara generasi muda perkotaan dengan kultur pedesaan yang masih kental nilai kebersamaan.

“Desa kami terbuka menjadi tempat belajar. Anak-anak bisa merasakan langsung semangat gotong royong, kesederhanaan, dan sopan santun yang mungkin mulai pudar di perkotaan,” katanya.

Bagi peserta, pengalaman itu meninggalkan kesan tersendiri. Avinza Meivano, salah satu siswa, mengaku sempat kaget saat pertama kali harus mengikuti rutinitas warga desa.

“Awalnya capek sekali karena harus bangun pagi dan ikut bekerja di ladang. Tapi saya belajar arti syukur. Hidup di sini sederhana, namun warganya ikhlas dan bahagia,” ungkapnya.

Program Live In menjadi cara SMPIT Nidaul Hikmah menegaskan bahwa pendidikan tak hanya soal nilai akademik. Di tengah dominasi teknologi, sekolah berupaya menghadirkan pengalaman hidup nyata agar siswa tak sekadar cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat mental dan peka sosial.(sas)

Editor : Baskoro Septiadi
#nidaul hikmah #live in #desa cendana #Kota Salatiga