Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Radar Semarang Menjaga Integritas di Tengah Arus Informasi, Dari Kamera Manual Ke Era Digital

Dhinar Sasongko • Rabu, 1 April 2026 | 12:56 WIB
Penulis: Dhinar Sasongko, jurnalis Jawa Pos Radar Semarang
Penulis: Dhinar Sasongko, jurnalis Jawa Pos Radar Semarang

 

RADARSEMARANG.ID - Perjalanan panjang dunia jurnalistik sering kali tidak hanya ditandai oleh perubahan zaman, tetapi juga oleh keteguhan orang-orang di dalamnya. Kisah bergabung dengan Jawa Pos Radar Semarang pada 2004 menjadi pintu masuk untuk menyaksikan langsung bagaimana profesi ini bertransformasi—dari serba manual hingga serba digital, dari keterbatasan alat hingga kelimpahan informasi.

Saat itu, kantor masih berdiri di Jalan MT Haryono. Penugasan pertama di Kota Salatiga menjadi awal dari dinamika lapangan yang sesungguhnya. Liputan dilakukan dengan peralatan sederhana yang hari ini mungkin terasa asing: kamera besar dengan sistem manual, blocknote untuk mencatat setiap kutipan wawancara, serta tape recorder untuk memastikan tidak ada pernyataan yang terlewat.

 Proses pengambilan gambar pun belum instan. Kamera masih menggunakan film yang harus dicuci dan dicetak terlebih dahulu sebelum hasilnya bisa dikirim ke redaksi. Waktu, tenaga, dan ketelitian menjadi taruhan dalam setiap berita yang dihasilkan.

Perubahan mulai terasa ketika kamera digital masuk ke ruang kerja wartawan. Meski resolusinya masih sebatas 2 megapiksel, harganya terbilang tinggi hingga harus dicicil selama satu tahun. Namun, kehadiran teknologi ini membawa efisiensi yang signifikan. Proses pengiriman foto menjadi lebih cepat, meski tetap diiringi adaptasi yang tidak sederhana.

Baca Juga: 26 Tahun Radar Semarang: Tetap Waras di Tengah Riuh Informasi

Kemudian hadir era BlackBerry, yang mengubah cara komunikasi di lapangan. Wartawan tak lagi sepenuhnya bergantung pada alat terpisah. Mencatat, merekam, hingga mengirim informasi bisa dilakukan melalui satu perangkat. Ini menjadi jembatan menuju era digital yang lebih kompleks, di mana kecepatan menjadi nilai utama dalam kompetisi informasi.

Namun jika menengok lebih jauh ke belakang, masa kejayaan pers cetak justru terjadi pada era 1990-an. Saat itu, koran menjadi sumber utama informasi masyarakat. Pagi hari identik dengan lembaran berita yang dibaca dari halaman ke halaman. Koran bukan sekadar media, tetapi juga rujukan utama dalam memahami realitas.

Seiring perkembangan teknologi, lanskap tersebut berubah drastis. Internet membuka akses informasi tanpa batas. Telepon genggam menjadi pintu masuk bagi arus berita dari berbagai arah. Sayangnya, derasnya informasi tidak selalu diiringi dengan akurasi. Hoaks dan informasi tanpa verifikasi turut mengisi ruang publik.

Di tengah kondisi itu, koran tetap memiliki tempat tersendiri. Ia berdiri sebagai salah satu alat legitimasi informasi. Bukan tanpa alasan—setiap berita yang terbit melalui proses yang baku, berlapis, dan terikat oleh kode etik jurnalistik. Tidak ada ruang bagi informasi yang tidak jelas sumbernya. Di sinilah nilai utama pers cetak tetap bertahan: kepercayaan.

Memasuki tahun 2026, tidak sedikit media cetak yang harus gulung tikar. Gelombang disrupsi digital menjadi ujian berat yang tidak semua mampu lalui. Hanya media yang menjaga kualitas dan kepercayaan publik yang bisa tetap berdiri. Dalam konteks ini, Jawa Pos Radar Semarang menjadi salah satu yang mampu bertahan.

Tanggal 1 April 2026 menandai usia ke-26 tahun kiprah di Jawa Tengah—sebuah usia yang bisa disebut sebagai fase emas. Dalam rentang waktu itu, berbagai fase telah dilalui: dari keterbatasan teknologi, masa kejayaan, hingga terpaan disrupsi digital. Badai dan pesta datang silih berganti, namun esensi jurnalistik tetap dijaga.

Perjalanan ini belum selesai. Seperti siklus yang terus berulang, tantangan akan selalu hadir dalam bentuk yang berbeda. Namun selama integritas tetap menjadi fondasi, dan kepercayaan publik terus dijaga, koran akan selalu menemukan caranya untuk tetap hidup—bukan sekadar sebagai media, tetapi sebagai penjaga kebenaran di tengah riuhnya informasi.s

Selamat ulang tahun Jawa Pos Radar Semarang, kita dayung bahtera ini bersama menuju transparansi informasi yang berdampak positif.

Penulis: Dhinar Sasongko, jurnalis Jawa Pos Radar Semarang

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Radar Semarang