RADARSEMARANG.ID, SALATIGA – Kabar menggembirakan datang dari Universitas Islam Negeri Salatiga. Hasil Tracer Study 2025 menunjukkan, mayoritas alumninya cepat terserap di dunia kerja.
Bahkan, masa tunggu lulusan terbilang singkat dan kompetitif.
Berdasarkan data resmi, sebanyak 75 persen alumni sudah bekerja.
Baca Juga: Beasiswa Kuliah Unhan 2026 Lulus Jadi Letnan Dua, Alumni SMA SMK Bisa Mendaftar, Ini Caranya
Sementara 10 persen memilih berwirausaha dan 5 persen melanjutkan studi. Sisanya, sekitar 10 persen, masih dalam proses mencari pekerjaan.
Yang menarik, kecepatan memperoleh kerja cukup tinggi.
Sebanyak 30 persen lulusan langsung bekerja kurang dari tiga bulan setelah wisuda.
Disusul 40 persen lainnya yang mendapat pekerjaan dalam kurun 3–6 bulan.
Baca Juga: PGMI UIN Salatiga Raih Akreditasi Unggul Jelang Lebaran
Kepala Career Development Center (CDC), Akhmad Kharis, menyebut capaian ini sebagai indikator kuat daya saing lulusan di pasar kerja.
“Ini menunjukkan lulusan UIN Salatiga memang dibutuhkan. Masa tunggunya relatif singkat,” ujarnya, Selasa (31/3).
Menurut dia, hasil ini tidak akan berhenti sebagai laporan semata. CDC akan menjadikannya pijakan untuk memperkuat program pembinaan karier mahasiswa. Mulai dari perluasan jejaring dunia usaha dan industri (DUDI) hingga penguatan pelatihan soft skills.
“Ke depan kami dorong mahasiswa tidak hanya siap kerja, tapi juga adaptif. Dunia kerja sekarang dinamis,” imbuhnya.
Dari sisi sebaran, lulusan Fakultas Tarbiyah masih mendominasi hingga 40 persen. Disusul Fakultas Syariah 25 persen, Ushuluddin 15 persen, Dakwah 10 persen, dan Ekonomi 10 persen.
Baca Juga: 'Tarbiyah Mengajar' Perkuat Pengabdian Masyarakat Berbasis Masjid
Sementara itu, tingkat kesesuaian pekerjaan dengan bidang studi (linieritas) juga cukup tinggi. Sebanyak 50 persen alumni menyatakan pekerjaannya sangat sesuai, dan 30 persen lainnya sesuai.
Rektor Universitas Islam Negeri Salatiga, Zakiyuddin Baidhawy, menegaskan capaian ini menjadi alarm sekaligus pijakan strategis kampus. Menurutnya, Tracer Study bukan sekadar evaluasi, melainkan dasar penyusunan kebijakan ke depan.
“Serapan tinggi ini patut disyukuri. Tapi tidak boleh membuat kita cepat puas. Justru ini jadi momentum untuk mempercepat inovasi kurikulum,” tegasnya.
Ia memastikan, kampus akan terus menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar global. Termasuk memperkuat keseimbangan antara hard skills dan soft skills.
“Target kami jelas, lulusan tidak hanya cerdas akademik. Tapi juga punya daya saing, karakter kuat, dan siap menghadapi perubahan,” tandasnya.(sas)
Editor : Tasropi