RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Lonjakan volume sampah tak terhindarkan selama momen Lebaran 2026 di Kota Salatiga.
Dalam kurun 18–24 Maret, timbulan sampah tercatat rata-rata mencapai 87 ton per hari.
Baca Juga: Kasus Penyakit Saat Lebaran Terkendali, Dinkes Salatiga Pastikan Layanan Tetap Siaga
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Salatiga Yunus Juniadi mengungkapkan, angka tersebut naik sekitar 7 ton dibanding hari normal yang berada di kisaran 80 ton per hari.
Meski demikian, kenaikan itu dinilai masih dalam batas wajar.
“Peningkatannya tidak signifikan dan masih terkendali,” ujarnya, Jumat (27/3).
Menurut Yunus, tidak melonjaknya sampah secara drastis dipengaruhi beberapa faktor.
Di antaranya aktivitas perkantoran dan perusahaan yang libur, serta arus pemudik masuk dan keluar kota yang relatif seimbang.
Baca Juga: Mutasi 22 Pegawai, Bank Salatiga Perkuat SDM dan Pilar Hukum
Dari komposisinya, sampah organik tetap mendominasi dengan porsi sekitar 50 persen.
Sumber utamanya berasal dari sisa makanan rumah tangga selama perayaan Lebaran.
Sementara itu, sampah anorganik seperti kemasan plastik, sachet, dan residu lainnya juga mengalami peningkatan seiring tingginya konsumsi masyarakat.
Yunus menambahkan, kebijakan rekayasa lalu lintas berupa sistem satu arah (one way) di jalan tol turut berkontribusi menahan lonjakan sampah di dalam kota.
Banyak pemudik memilih tidak masuk ke Salatiga sehingga beban sampah tidak meningkat tajam.
Dari sisi pelayanan, DLH memastikan pengangkutan sampah tetap berjalan normal tanpa penambahan armada dump truk.
Namun, dilakukan penyesuaian jadwal operasional, khususnya untuk armada mini dump.
“Penyesuaian dilakukan agar kebersihan kota tetap terjaga, terutama menjelang dan setelah Lebaran,” jelasnya.
Untuk sampah pasar, pengangkutan dilakukan rutin menggunakan sekitar tiga armada dump truk setiap hari.
Selain itu, ada tambahan pengangkutan sore hari memakai armada L300 milik Dinas Perdagangan, terutama di kawasan Jalan Jenderal Sudirman.
Sementara di Terminal Tingkir, pengelolaan sampah dinilai aman karena telah didukung fasilitas Tempat Penampungan Sementara (TPS).
DLH juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat melalui Surat Edaran Wali Kota tentang Idul Fitri Minim Sampah.
Kampanye tersebut mendorong warga mengurangi pemborosan makanan, mengelola sampah organik, serta membatasi penggunaan plastik sekali pakai.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, Yunus mengakui peran masyarakat masih menjadi kunci utama.
“Kesadaran sudah mulai tumbuh, tetapi belum mampu menekan volume sampah secara signifikan. Ini masih menjadi pekerjaan rumah bersama,” tandasnya. (sas)
Editor : Baskoro Septiadi