RADARSEMARANG.ID, Salatiga — Pagi itu, halaman Rumah Tahanan Negara (Rutan) Salatiga sudah dipenuhi langkah-langkah tergesa.
Ada yang membawa bingkisan sederhana, ada pula yang hanya menggenggam harapan.
Di antara kerumunan, seorang ibu paruh baya tampak berkali-kali menyeka air mata sebelum akhirnya namanya dipanggil petugas.
Lebaran tahun ini, ia tak berkumpul di ruang tamu rumahnya. Ia memilih datang ke rutan, demi satu hal yang tak tergantikan: bertemu anaknya.
Selama dua hari, 22–23 Maret 2026, ratusan keluarga dari berbagai daerah memadati Rutan Salatiga.
Mereka datang dengan cerita masing-masing, tapi tujuan yang sama—melepas rindu dengan orang tercinta yang tengah menjalani masa pembinaan.
Begitu pintu ruang besukan terbuka, suasana berubah. Tangis pecah tanpa aba-aba. Pelukan erat seolah menebus waktu yang lama terpisah.
Seorang anak kecil tampak sempat ragu sebelum akhirnya berlari dan memeluk ayahnya, yang hanya bisa tersenyum sambil menahan haru.
“Sudah besar, ya…” ucapnya lirih.
Momen-momen seperti itu berlangsung silih berganti. Di sudut lain, sepasang suami istri saling menggenggam tangan tanpa banyak kata.
Ada pula yang memilih bercerita cepat, seakan 45 menit terasa terlalu singkat untuk menampung semua rindu.
Pelayanan besukan Lebaran memang dibagi dalam dua sesi, pagi dan siang.
Setiap warga binaan hanya mendapat waktu 45 menit, dengan maksimal lima anggota keluarga dalam satu pertemuan.
Namun, keterbatasan itu tak mengurangi makna pertemuan.
Kepala Rutan Salatiga, Anton Adi Ristanto, mengatakan pihaknya berupaya menghadirkan suasana yang lebih manusiawi di momen hari raya.
“Kami ingin mereka tetap merasakan hangatnya kebersamaan. Lebaran adalah tentang kembali, tentang memaafkan, dan itu juga penting bagi warga binaan,” ujarnya.
Di balik pengawasan ketat dan alur yang tertib, ada sisi lain yang tak kasat mata—harapan. Harapan untuk berubah, untuk kembali ke keluarga, dan untuk memulai hidup yang lebih baik.
Saat waktu kunjungan usai, pelukan kembali terurai. Tangis kembali pecah, kali ini dengan nuansa yang berbeda—lebih berat, namun juga lebih lega. Seorang ibu menggenggam tangan anaknya erat sebelum berpisah.
“Yang sabar, ya. Ibu tunggu di rumah,” pesannya.
Di hari kemenangan, tak semua orang bisa pulang. Namun di Rutan Salatiga, setidaknya mereka sempat “pulang” sejenak—dalam pelukan, dalam air mata, dan dalam 45 menit yang terasa begitu berarti.(sas)
Editor : Baskoro Septiadi