RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Suasana di Terminal Tingkir, Kota Salatiga, masih menyisakan ketenangan ketika deretan bus mudik gratis tiba, Senin (16/3/2026) malam.
Dari balik jendela, wajah-wajah lelah perlahan berubah menjadi senyum lega. Perjalanan panjang akhirnya terbayar—mereka pulang.
Di antara ratusan pemudik, Rasnaf tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Sejak subuh ia berangkat dari Jakarta, menempuh perjalanan berjam-jam demi satu tujuan: berkumpul kembali dengan keluarga di kampung halaman.
“Capek pasti, tapi rasanya senang sekali. Sudah lama tidak pulang,” ujarnya sambil menenteng tas sederhana.
Bagi Rasnaf, mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ini adalah momen berharga untuk kembali merasakan hangatnya rumah, suara keluarga, dan suasana yang tak tergantikan oleh hiruk pikuk ibu kota.
Cerita serupa datang dari Aan, pemudik lainnya. Ia mengaku program mudik gratis sangat berarti, terutama di tengah kebutuhan hidup yang semakin meningkat.
“Kalau tidak ada program ini, mungkin saya harus berpikir dua kali untuk pulang. Alhamdulillah sangat terbantu,” katanya.
Di tengah kerumunan, beberapa pemudik tampak langsung menelpon keluarga, memberi kabar bahwa mereka telah tiba. Ada pula yang sibuk mencari kendaraan lanjutan, sementara lainnya memilih duduk sejenak, menikmati momen tiba di tanah kelahiran.
Suasana haru juga terasa saat sebagian keluarga sudah menunggu di terminal. Pelukan hangat, tawa, bahkan air mata menjadi pemandangan yang tak terelakkan—sebuah gambaran sederhana tentang arti pulang.
Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG., yang hadir menyambut para pemudik, turut merasakan kebahagiaan tersebut.
Ia menyebut bahwa kehadiran pemerintah dalam program ini adalah bentuk nyata kepedulian terhadap warganya.
Namun di balik seremoni penyambutan, yang paling terasa adalah cerita-cerita kecil para pemudik—tentang rindu yang tertahan, perjuangan di perantauan, dan harapan sederhana untuk merayakan Lebaran bersama orang tercinta.
Bagi mereka, perjalanan panjang ini bukan sekadar perpindahan jarak. Ini adalah perjalanan pulang—menuju kehangatan yang selalu dirindukan.(sas)
Editor : Tasropi