RADARSEMARANG.ID, SALATIGA -
Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UIN Salatiga menyodorkan solusi cerdas bagi orang tua yang kerap kewalahan melatih anak ke toilet.
Melalui formula T3KAD, transisi kemandirian anak diupayakan berjalan mulus tanpa drama, terutama di tengah perubahan rutinitas selama Ramadan.
Urgensi tema tersebut dibedah dalam webinar Tadarus PIAUD Sesi 3, Selasa (10/3).
Dosen UIN Salatiga, Ghaida Zukhruf Tsaniyatsnaini M.Pd., yang memandu acara tersebut menyebut pemilihan tema ini memiliki kaitan erat antara dimensi spiritual dan perkembangan fisik anak.
"Dalam perspektif Islam, toilet training adalah pendidikan praktis mengenai thaharah atau kesucian diri. Ramadan menjadi waktu tepat menanamkan nilai dasar ini sekaligus melatih kemandirian sebagai pilar utama perkembangan anak," papar Ghaida.
Sisi spiritual tersebut berkelindan dengan tantangan pengasuhan harian.
Ghaida menilai, program ini hadir sebagai solusi strategis bagi wali murid untuk menjaga ritme disiplin selama bulan puasa melalui sinergi antara rumah dan sekolah.
Harapannya, beban pengasuhan orang tua menjadi lebih ringan karena adanya kesamaan pola asuh.
"Kami berupaya memastikan proses transisi kemandirian anak berjalan konsisten di kedua lingkungan tersebut," tambahnya.
Menanggapi kebutuhan teknis tersebut, Kepala TKIT Miftahul Jannah Salatiga sekaligus Ketua IGTKI Tingkir, Nur Afifah M.Pd., selaku narasumber memperkenalkan kerangka kerja T3KAD (Tuntas Toilet Training Membangun Kemandirian Anak Usia Dini).
Ia menegaskan, kemandirian merupakan kunci utama membangun kepercayaan diri dan kemampuan adaptasi sosial anak.
Implementasi T3KAD tidak sekadar soal kemandirian fisik, namun juga penanaman adab Islami secara mendalam.
Nur Afifah merinci tahapan mulai dari doa masuk-keluar kamar mandi, mendahulukan kaki kiri, hingga etika menjaga aurat.
"Guru berperan sebagai pembimbing di sekolah, sementara orang tua memperkuat kebiasaan di rumah. Komunikasi dan konsistensi adalah variabel penentu keberhasilan," tandasnya.
Agar lebih mudah diaplikasikan, Nur Afifah membagi metode ini ke dalam tiga pilar utama: TUNTAS (Tekun, Usaha, Nyaman, Telaten, Anak Sehat), MANDIRI (Melatih Anak Dengan Interaksi Rutin dan Intensif), serta CERIA (Cekatan, Edukatif, Apresiasi).
Ketiga pilar ini memadukan ketulusan sikap pendidik dengan teknik interaksi yang menyenangkan bagi anak.
Langkah edukatif ini mendapat dukungan penuh dari pihak universitas. Ketua Prodi PIAUD UIN Salatiga, M. Agung Hidayatullah M.Pd.I., menyebut webinar ini merupakan bentuk nyata komitmen institusi dalam menjalin kolaborasi dengan mitra pendidikan.
"Acara ini merupakan tindak lanjut kerja sama kami dengan sekolah dan organisasi TK. Ke depan, Prodi PIAUD akan menghadirkan kegiatan lain yang lebih berdampak luas bagi masyarakat," jelas Agung.
Menutup rangkaian diskusi, Sekretaris Prodi PIAUD UIN Salatiga, Dr. MS Viktor Purhanudin M.Pd., mengapresiasi antusiasme puluhan peserta dari kalangan wali murid dan mahasiswa.
Ia berharap formula T3KAD menjadi rujukan baku yang memberikan struktur jelas dalam pengasuhan.
"Materi ini menawarkan framework terstruktur, bukan sekadar tips umum. Mudah-mudahan Ramadan tahun depan dapat diselenggarakan kembali dengan jangkauan yang lebih masif," pungkas Viktor.(sas)
Editor : Tasropi