RADARSEMARANG.ID, SALATIGA – Pagi ini, udara masih basah oleh embun ketika sapu lidi mulai menyapu daun-daun kering di area makam Cungkup.
Beberapa pria mengenakan pakaian sederhana tampak serius merapikan rumput liar.
Selain makan, mereka juga membersihkan sudut-sudut musala Al Mana yang berada tidak jauh dari makan Cungkup.
Mereka adalah warga binaan Rumah Tahanan Negara (rutan) Salatiga yang mendapat kesempatan mengikuti program asimilasi.
Menjelang Ramadan, tangan-tangan yang selama ini lebih sering terlipat di balik dinding penjara kini bergerak bebas meski tetap dalam pengawasan petugas.
Bagi Enggar Yuda, salah satu warga binaan, pagi itu terasa berbeda. Sapu lidi di tangannya bukan sekadar alat kebersihan, melainkan simbol kecil dari kepercayaan yang kembali diberikan kepadanya.
“Senang bisa ikut bantu,” ujarnya pelan, sembari mengusap keringat di dahi.
Enggar tengah menjalani pidana satu tahun enam bulan. Sepuluh bulan sudah ia lewati.
Waktu di dalam rutan berjalan lambat, katanya, namun pagi itu terasa singkat. Ada rasa lega saat bisa menatap langit tanpa terhalang teralis.
Kepala Rutan Salatiga, Anton Adi Ristanto, memandang kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti.
Ia melihatnya sebagai jembatan—penghubung antara masa lalu warga binaan dan kesempatan masa depan.
“Kerja bakti ini bagian dari pembinaan sekaligus persiapan menyambut bulan suci Ramadan. Kami ingin mereka ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial, agar masyarakat tidak melihat warga binaan hanya sebagai orang yang menjalani hukuman,” ujarnya.
Dari total 189 warga binaan di rutan tersebut. Dan hanya yang telah memenuhi syarat yang dapat mengikuti program asimilasi.
Minimal telah menjalani setengah masa pidana, berkelakuan baik, lolos asesmen, serta memiliki penjamin.
Menurut Anton, proses ini penting sebagai tahap adaptasi sebelum benar-benar kembali ke masyarakat.
“Dengan pengawalan petugas, mereka belajar kembali bersosialisasi, berinteraksi, dan bertanggung jawab,” katanya.
Ramadan sendiri selalu membawa suasana yang berbeda di dalam rutan. Nanti, setelah matahari terbenam, lantunan ayat suci akan menggema lebih lama.
Pengajian harian, salat tarawih berjamaah, hingga tadarus Al-Qur’an menjadi rutinitas yang dinanti.
Bagi sebagian warga binaan, bulan suci adalah momen refleksi terdalam—tentang kesalahan, penyesalan, dan niat memperbaiki diri.
Enggar termasuk yang menyimpan harapan itu. Ia tak banyak bicara tentang masa lalunya.
Namun ketika ditanya tentang masa depan, sorot matanya berubah.
“Rencana mungkin lebih baik lagi dan mau bekerja. Mungkin mau ke Bali,” katanya, dengan nada yang lebih mantap.
Kerja bakti pagi itu mungkin terlihat sederhana, hanya membersihkan makam dan musala.
Tetapi di balik sapuan daun dan debu yang terangkat, tersimpan cerita tentang manusia yang ingin berubah.
Ramadan yang akan datang bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang kesempatan kedua.
Dan di antara nisan-nisan yang dibersihkan pagi itu, tumbuh doa-doa kecil: semoga ketika pintu rutan benar-benar terbuka nanti, masyarakat juga membuka pintu hati.(sas)
Editor : Tasropi