Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

FTIK UIN Salatiga Latih Guru MIN 6 Magelang Bikin Kelas Seru Tanpa Gadget Mahal

Dhinar Sasongko • Minggu, 1 Februari 2026 | 17:51 WIB
Photo
Photo

RADARSEMARANG.ID, Salatiga - Anggapan bahwa menaikkan level pendidikan di era digital mutlak membutuhkan gawai canggih dan infrastruktur internet super cepat, ditepis oleh para pakar pendidikan dari UIN Salatiga. Esensi dari "level up" madrasah sejatinya terletak pada inovasi metode pembelajaran, bukan sekadar ketersediaan alat.

Hal tersebut mengemuka dalam In-House Training (IHT) Pemanfaatan Teknologi Digital bertajuk "Gamifikasi Low Tech" yang digelar di Aula Terpadu MIN 6 Magelang, Minggu (1/2). Acara ini menghadirkan Tim Pengabdian Masyarakat dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga.

Dekan FTIK UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., yang menjadi pembicara utama, menekankan pentingnya kembali ke akar kreativitas. Ia memperkenalkan pendekatan Gamifikasi Low Tech sebagai solusi pembelajaran yang seru dan menantang tanpa bergantung pada teknologi mahal.

"Kita membuktikan bahwa pembelajaran yang membuat siswa 'kecanduan' belajar bisa diciptakan dengan alat-alat sederhana di sekitar kita, seperti kertas, karton, atau permainan peran sederhana," ujar Prof. Rasimin.

Menurutnya, gamifikasi bukan sekadar soal teknologi, melainkan psikologi di baliknya. Yakni, bagaimana memicu rasa ingin tahu, kompetisi sehat, dan kolaborasi antar siswa.

Prof. Rasimin mencontohkan penerapan teknik naratif dengan mengubah bahasa buku teks yang kaku menjadi diksi khas game. 

"Contohnya dalam mata pelajaran PAI tentang tata cara wudu, kita bisa ubah diksinya menjadi 'pasukan penjaga kesucian'. Melalui cara ini, anak-anak tidak merasa pelajaran itu menakutkan, tapi justru menjadi aktivitas yang menyenangkan seperti dunia mereka," imbuhnya.

Senada, Dosen FTIK UIN Salatiga, Dr. MS Viktor Purhanudin, M.Pd., menegaskan bahwa pendekatan low tech dipilih agar bisa diterapkan di madrasah manapun tanpa terkendala sinyal atau biaya. Ia membedah bagaimana elemen game seperti poin, tantangan, level, dan penghargaan (reward) sederhana dapat disuntikkan ke dalam materi pelajaran yang berat.

"Hasilnya, siswa bukan lagi pendengar pasif, melainkan 'pemain' aktif yang antusias menuntaskan misi belajarnya," jelas Viktor.

Sementara itu, Dosen Fakda UIN Salatiga, Dr. Imam Subqi, M.Si., menambahkan motivasi bagi para guru. "Madrasah hebat bukan yang fasilitasnya paling mewah, tapi yang gurunya paling kreatif mengubah keterbatasan menjadi peluang belajar yang menyenangkan. Mari terus berinovasi," tuturnya.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari pihak madrasah. Kepala MIN 6 Magelang, H. Abdul Aziz, S.Ag., M.M., menyebut materi Gamifikasi Low Tech sebagai jawaban bagi tantangan madrasah saat ini. Ia menilai, skenario permainan cerdas di tangan guru kreatif jauh lebih powerful daripada gawai canggih di tangan guru yang pasif.

Aziz bahkan memberikan instruksi tegas kepada jajarannya. "Mulai hari ini, haram hukumnya kita menjadikan 'kurang fasilitas' sebagai alasan kelas yang membosankan. Pak Viktor sudah menunjukkan jalannya," tegasnya.

Ia meminta para guru segera mengeksekusi ilmu yang didapat. "Saya minta, minggu depan, setiap guru sudah mencoba menerapkan satu saja elemen gamifikasi sederhana di kelasnya. Level up mentalitas. Madrasah kita hanya akan 'level up' jika mentalitas gurunya juga 'level up'," pungkas Aziz.

Acara IHT yang juga dihadiri Ketua Program Studi PPG FTIK UIN Salatiga, Badrus Zaman, M.Pd., ini diikuti puluhan guru MIN 6 Magelang dengan antusias. Para peserta juga diajak praktik langsung menyusun modul ajar berbasis gamifikasi low tech.(sas)

Editor : Baskoro Septiadi
#UIN Salatiga