RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Era hiper-realitas masa kini berdampak pada tergerusnya dimensi karakter manusia, sebagaimana terlihat dalam narasi kemerosotan moral generasi bangsa pada berbagai laman media massa.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap ketahanan karakter religius siswa, akan tetapi situasi berbeda tampak pada lingkungan SMPN 1 dan SMPN 5 Kota Salatiga yang secara konsisten mengusung jargon Sekolah Ramah Anak.
Keunikan fenomena sosial inilah yang mendorong Dr. Imam Subqi, M.Si., seorang Dosen Fakultas Dakwah UIN Salatiga, mendalami landasan epistemologinya melalui disertasi berjudul "Internalisasi Nilai Karakter Religius dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (Studi Fenomenologi pada SMP Ramah Anak di Kota Salatiga)".
Pemaparan hasil riset tersebut berlangsung dalam Ujian Terbuka dan Promosi Doktor pada Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang digelar Rabu (28/1) di Aula Lantai 3 Gedung Direktorat Pascasarjana, Kampus 1 UIN Salatiga.
Melalui sidang akademik ini, Imam Subqi resmi dikukuhkan sebagai Doktor Pendidikan Agama Islam ke-8 yang diluluskan oleh universitas tersebut.
Dalam orasinya, ia menguraikan bahwa penguatan karakter di sekolah tersebut bertumpu pada dimensi religiusitas yang saling terintegrasi.
“Nilai religius yang ada dalam aktivitas pembelajaran PAI di sekolah yang saya teliti mencakup lima dimensi, yakni dimensi ideologis, ritualistik, pengalaman keagamaan, pengetahuan keagamaan, serta konsekuensi keberagamaan. Kerangka ini selaras dengan dimensi religiusitas yang umum dipakai dalam studi sosiologi agama,” jelas Imam Subqi di hadapan dewan penguji.
Implementasi dimensi tersebut terekam melalui strategi khusus yang diterapkan secara konsisten pada tiap instansi pendidikan. SMPN 1 Salatiga menerapkan empat pendekatan terintegrasi yang mencakup pendekatan kontekstual, pembiasaan, pengalaman langsung, serta pelibatan aktif peserta didik dalam kegiatan keagamaan.
Sejalan dengan itu, pola pembentukan karakter di SMPN 5 Salatiga menitikberatkan pada aspek pembiasaan, pemberian nasihat, kesepakatan kelas, serta pemberian keteladanan dari tenaga pendidik.
Temuan ini memberikan kontribusi pada penguatan teori karakter Thomas Lickona sekaligus melahirkan kebaruan riset bagi dunia pendidikan.
“Proposisi inilah yang menjadi salah satu novelty dari penelitian saya. Ke depan, saya akan menyosialisasikan model internalisasi karakter religius di kedua SMP ini sehingga menjadi model bagi sekolah-sekolah lain,” tambah Imam.
Kesuksesan Dosen Fakultas Dakwah ini mendapat apresiasi penuh dari Prof. Dr. Zakiyuddin, M.Ag., selaku Rektor UIN Salatiga sekaligus Ketua Sidang.
Beliau memandang hasil penelitian ini sebagai langkah konkret universitas dalam menjawab persoalan moral di tengah masyarakat modern.
“UIN Salatiga merasa bangga atas lahirnya doktor baru yang menaruh perhatian besar pada penguatan karakter generasi muda sebagai jawaban atas kegelisahan publik mengenai degradasi moral di era modern. Kami berharap model internalisasi hasil temuan Dr. Imam Subqi ini dapat diimplementasikan secara luas guna mewujudkan pendidikan Islam yang ramah anak serta humanis,” ungkap Prof. Zakiyuddin dalam sambutannya.
Jalannya sidang terbuka ini didukung oleh dewan penguji yang terdiri dari Dr. Ruwandi, M.A. sebagai Sekretaris, Prof. Dr. H. Abdurahman Kasdi, Lc., M.Si. sebagai Penguji Eksternal, serta Prof. Dr. phil. Widyanto, M.A., Prof. Dr. Muh. Saerozi, M.Ag., dan Prof. Dr. Supardi, M.A. sebagai anggota penguji. Prof. Dr. Mansur, M.Ag., bertindak sebagai promotor sekaligus penguji didampingi oleh Noor Malihah, Ph.D. selaku co-promotor. Menutup rangkaian prosesi akademik tersebut, Prof. Mansur menegaskan urgensi penerapan hasil riset ini bagi masa depan pendidikan nasional.
“Dengan selesainya promosi doktor ini, model pendidikan karakter religius yang diteliti diharapkan dapat segera diaplikasikan secara efektif demi meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam pada sekolah umum di seluruh Indonesia,” pungkas Prof. Mansur.(sas)
Editor : Tasropi