Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kurikulum Cinta Jadi Landasan Pembelajaran Humanis di Madrasah

Dhinar Sasongko • Senin, 20 Oktober 2025 | 23:46 WIB
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., menyampaikan hal itu saat membuka seminar Penguatan Pembelajaran Humanis dan Berbasis Cinta di Madrasah.
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., menyampaikan hal itu saat membuka seminar Penguatan Pembelajaran Humanis dan Berbasis Cinta di Madrasah.

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia tengah menggencarkan sosialisasi Kurikulum Cinta di lembaga pendidikan di bawah naungannya.

Kurikulum ini diyakini mampu membentuk karakter peserta didik yang humanis, nasionalis, dan berlandaskan nilai keislaman.

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., menyampaikan hal itu saat membuka seminar Penguatan Pembelajaran Humanis dan Berbasis Cinta di Madrasah di Hotel Aston Inn Rembang, Senin (20/10).

Kegiatan tersebut diikuti ratusan guru madrasah dari jenjang MI, MTs, hingga MA se-wilayah Rembang.

Rasimin menyebut Kurikulum Cinta sebagai upaya penting Kemenag untuk memperkuat karakter pendidikan di madrasah.

“Sebagai lembaga di bawah Kementerian Agama, FTIK UIN Salatiga memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk menyukseskan Kurikulum Cinta. Seminar ini merupakan wujud komitmen kami mendukung program tersebut,” ujarnya.

Ia menilai, Kurikulum Cinta mampu menumbuhkan empati, kasih sayang, dan kepedulian sosial di lingkungan belajar. Guru diharapkan mampu menanamkan nilai cinta dalam setiap pelajaran serta menjadi teladan bagi siswa.

“Pendidikan berlandaskan cinta akan melahirkan generasi yang seimbang antara ilmu, akhlak, dan rasa peduli terhadap sesama,” lanjutnya.

Kegiatan ini terlaksana berkat kerja sama antara FTIK UIN Salatiga dan Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah.

Rasimin menekankan pentingnya kolaborasi yang berkelanjutan agar lahir program-program baru yang bermanfaat bagi guru dan siswa.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Sri Wulan, S.E., M.M., hadir sebagai narasumber. Ia menjelaskan Kurikulum Cinta dari sisi kebijakan nasional dan pendekatan deep learning.

Menurutnya, Kurikulum Cinta adalah pendekatan belajar yang menanamkan kasih sayang, empati, dan rasa saling menghargai.

“Melalui Kurikulum Cinta, siswa diajak memahami makna cinta dalam tiga relasi utama: kepada Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitar. Nilai cinta ini menjadi dasar pembentukan karakter agar siswa tumbuh sebagai pribadi yang utuh dan berakhlak,” jelasnya.

Sri Wulan menuturkan, pendekatan deep learning membantu siswa memahami pelajaran secara lebih mendalam melalui pengalaman langsung.

“Pembelajaran bisa dilakukan lewat diskusi, kegiatan sosial, atau proyek sederhana yang menumbuhkan empati dan kasih,” katanya.

Ia menambahkan, guru dapat melibatkan siswa dalam kegiatan sosial, penanaman pohon, atau dialog lintas kelas untuk menumbuhkan sikap saling menghormati.

“Anak-anak yang tumbuh dengan rasa cinta akan lebih mudah memahami orang lain dan membawa kebaikan di lingkungannya,” imbuhnya.

Sementara itu, Dr. Hariman Surya Siregar, M.Ag., Wakil Dekan FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menjelaskan bahwa Kurikulum Cinta dibangun atas empat pilar utama: cinta kepada Tuhan (Hablum Minallah), cinta kepada sesama manusia (Hablum Minannas), cinta kepada lingkungan (Hablum Bi’ah), dan cinta kepada bangsa serta tanah air (Hubbul Wathan).

Keempat pilar itu diperkuat oleh lima dimensi religiusitas, yaitu keimanan, pengetahuan, penghayatan, peribadatan, dan pengamalan.

“Kurikulum ini bersumber dari semangat religiusitas yang menumbuhkan keseimbangan antara spiritualitas, moral, dan sosial,” paparnya.

Hariman menambahkan, penerapan Kurikulum Cinta dapat dilakukan melalui tiga jalur utama: pembelajaran, keteladanan, dan budaya sekolah. Guru bisa mengaitkan nilai cinta pada setiap mata pelajaran.

Dalam IPA, misalnya, cinta diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan. Dalam IPS, cinta tanah air ditanamkan melalui pemahaman sejarah dan kehidupan sosial.

Ia juga mendorong terciptanya suasana belajar yang hangat dan saling menghormati. Guru dan tenaga kependidikan diimbau menjadi contoh dalam bersikap adil, sabar, dan peduli.

Kegiatan seperti refleksi spiritual, kerja bakti, doa bersama, dan aksi sosial dinilai efektif memperkuat kebersamaan di madrasah.

Hariman menegaskan perlunya dukungan keluarga dan masyarakat agar nilai cinta yang diajarkan di madrasah dapat diterapkan di rumah dan lingkungan sekitar.

“Pendidikan berbasis cinta akan berhasil jika dijalankan bersama oleh guru, orang tua, dan masyarakat,” ujarnya.

Seminar bertema “Menebar Kasih, Menumbuh Asih” berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta antusias berdiskusi serta berbagi pengalaman tentang penerapan nilai cinta di madrasah.

Banyak guru menyampaikan keinginan agar Kurikulum Cinta diterapkan secara luas untuk membentuk karakter generasi muda yang berempati dan religius.

“Semoga Kurikulum Cinta menjadi fondasi pendidikan yang menumbuhkan kasih, kepedulian, dan persaudaraan. Dari madrasah, semangat cinta bisa tumbuh menjadi kekuatan moral bangsa,” ujar salah satu peserta.(sas)

Editor : Tasropi
#Rasimin #UIN Salatiga