Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Moderasi dari Kota Toleran, Salatiga Sebarkan Kedamaian Lewat Pendidikan

Dhinar Sasongko • Jumat, 17 Oktober 2025 | 01:25 WIB
Moderasi dari Kota Toleran, Salatiga Sebarkan Kedamaian Lewat Pendidikan, Predikat resmi dari lembaga independen kembali menegaskan Salatiga sebagai kota paling toleran.
Moderasi dari Kota Toleran, Salatiga Sebarkan Kedamaian Lewat Pendidikan, Predikat resmi dari lembaga independen kembali menegaskan Salatiga sebagai kota paling toleran.

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Predikat resmi dari lembaga independen kembali menegaskan Salatiga sebagai kota paling toleran di Indonesia.

Berdasarkan Indeks Kota Toleran (IKT) 2024 yang dirilis Setara Institute, Salatiga meraih skor 6,54 dan menempati peringkat teratas. Pada 2025, lembaga yang sama juga menobatkan Salatiga sebagai kota dengan tingkat toleransi tinggi.

Sejumlah penelitian menyebut, salah satu kunci keberhasilan Salatiga mempertahankan predikat tersebut adalah tingginya tingkat moderasi beragama di kalangan masyarakat.

Berangkat dari semangat itu, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga bekerja sama dengan Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama RI, menggelar Seminar Penguatan Moderasi Beragama dalam Pembelajaran di Madrasah, Kamis (16/10), di Hotel 21 Purwodadi.

Dekan FTIK UIN Salatiga Prof. Dr. Rasimin, M.Pd. mengatakan, kegiatan tersebut mencerminkan semangat Salatiga sebagai kota toleran.

“Acara akademis ini mencuri spirit Kota Salatiga sebagai kota toleran. Kami ingin berbagi praktik baik moderasi beragama ke kota-kota lain melalui lembaga pendidikan, termasuk madrasah,” ujarnya.

Rasimin menambahkan, kunci keberhasilan Salatiga terletak pada kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan masyarakat.

“Nilai moderasi diintegrasikan ke dalam pendidikan formal, kegiatan sosial, serta kebijakan daerah, seperti pembentukan kampung moderasi beragama,” paparnya.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan FTIK UIN Salatiga Dr. Fatchurrohman, S.Ag., M.Pd. menyampaikan, semangat toleransi Salatiga patut dijadikan teladan bagi daerah lain.

“Langit Salatiga satu, tapi doa yang terbang ke atasnya banyak, dan semuanya diterima dengan damai. Berbeda warna, satu rasa: cinta pada perdamaian. Spirit ini yang membawa kami dalam seminar kali ini,” ucapnya.

Ia berharap forum tersebut dapat memperkuat pemahaman dan penerimaan terhadap moderasi beragama.

“Semoga forum ini menjadi epistemologi moderasi beragama, agar program yang digaungkan Kementerian Agama semakin kuat akseptabilitasnya,” imbuhnya.

Sebagai narasumber, Dekan FITK UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag. memaparkan strategi mengintegrasikan nilai moderasi beragama dalam pembelajaran madrasah.

“Nilai moderasi harus hidup dalam pelajaran sehari-hari, misalnya lewat contoh sikap toleran, adil, dan menghargai perbedaan saat guru mengajar,” katanya.

Ia menambahkan, metode pembelajaran perlu dibuat lebih interaktif dan inklusif.

“Guru bisa menerapkan diskusi, debat santai, atau proyek sosial agar siswa terbiasa berpikir kritis namun tetap sopan. Sekolah juga perlu menciptakan suasana ramah dan terbuka, serta melibatkan masyarakat dan tokoh agama,” jelasnya.

Narasumber lainnya, Hj. Sri Wulan, S.E., M.M., anggota Komisi VIII DPR RI, menegaskan pentingnya peran guru sebagai teladan moderasi beragama di lingkungan madrasah maupun masyarakat.

“Guru bisa mulai dari hal-hal sederhana, seperti bersikap adil, terbuka, dan menghargai semua siswa tanpa membeda-bedakan. Saat berbicara pun harus dengan kata-kata yang menenangkan dan tidak menghakimi,” ujarnya.

Menurutnya, keteladanan guru perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.

“Guru bisa mengajak siswa kerja bakti bersama, berdiskusi tentang perbedaan dengan santai, atau ikut kegiatan sosial lintas kalangan. Guru yang moderat bukan hanya bicara soal toleransi, tapi juga hidup dengan cara yang membuat orang lain merasa dihargai dan nyaman,” tambahnya.

Acara tersebut diikuti oleh ratusan guru madrasah dari jenjang MI, MTs, hingga MA, serta perwakilan orang tua wali siswa. Kegiatan berlangsung hangat dan interaktif, mencerminkan semangat Salatiga sebagai kota kecil dengan jiwa besar dalam menjaga kerukunan dan perdamaian.(sas)

Editor : Tasropi
#moderasi beragama #UIN Salatiga #dpr ri