Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Belajar Mendalam di Era Digital, Pandora Pedagogi Edisi 3 Bahas Deep Learning

Dhinar Sasongko • Kamis, 11 September 2025 | 03:48 WIB
Mufiq, M. Phil., Ketua Jurusan Guru Kelas FTIK UIN Salatiga, saat membuka Webinar Pandora Pedagogi Edisi 3 dengan tema Menyoal Deep Learning dalam Ekosistem Pendidikan Abad 21.
Mufiq, M. Phil., Ketua Jurusan Guru Kelas FTIK UIN Salatiga, saat membuka Webinar Pandora Pedagogi Edisi 3 dengan tema Menyoal Deep Learning dalam Ekosistem Pendidikan Abad 21.

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA -"Fenomena ‘buta huruf’ pada masa kini bukan lagi sebatas ketidakmampuan membaca. Banyak orang mampu membaca, namun kesulitan memahami, menghubungkan, dan memanfaatkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.”

Hal itu disampaikan oleh Mufiq, M. Phil., Ketua Jurusan Guru Kelas FTIK UIN Salatiga, saat membuka Webinar Pandora Pedagogi Edisi 3 dengan tema Menyoal Deep Learning dalam Ekosistem Pendidikan Abad 21.

Acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional pada Rabu (10/9) melalui Zoom Meeting.

Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 250 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, guru sekolah dasar, hingga pemerhati pendidikan.

Kehadiran peserta dari beragam latar belakang memperkaya diskusi dan mencerminkan besarnya perhatian terhadap isu literasi serta urgensi penerapan deep learning dalam proses pembelajaran.

Mufiq menjelaskan bahwa pendekatan deep learning ala Prof. Abdul Mu’ti berlandaskan tiga pilar: mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning.

Pendekatan ini diyakini mampu menjadi solusi atas fenomena schooling without learning yang masih ditemui di berbagai lembaga pendidikan.

“Melalui pemahaman yang mendalam, refleksi, dan pembelajaran yang menyenangkan, deep learning berperan menumbuhkan berbagai bentuk literasi. Di antaranya literasi baca-tulis, literasi digital, literasi data, serta literasi spiritual. Dengan bekal tersebut, generasi mendatang lebih siap menghadapi tantangan global dan tetap berpegang pada nilai kemanusiaan serta kebudayaan lokal,” ujarnya.

Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., Dekan FTIK UIN Salatiga yang menjadi narasumber pertama, memaparkan konsep TAMARA sebagai kerangka penerapan deep learning di kelas.

TAMARA merupakan singkatan dari Tanggap, Antusias, Mandiri, Aktif, Reflektif, dan Aktual. Melalui konsep ini, guru diajak untuk menumbuhkan kesadaran siswa agar peka terhadap lingkungan, bersemangat dalam belajar, mampu mengembangkan kemandirian, aktif berpartisipasi, serta terbiasa melakukan refleksi dan mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan.

“Ide utamanya adalah setiap pembelajaran berangkat dari tujuan yang bermakna. Guru menetapkan capaian yang mendorong pemahaman konsep, penguatan keterampilan berpikir kritis, dan pembentukan karakter,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya peran aktif siswa dalam proses belajar.

“Siswa sebaiknya dilibatkan dalam berbagai aktivitas. Guru dapat menggunakan metode seperti problem-based learning, diskusi kelompok, eksperimen, maupun proyek yang memberi kesempatan bagi siswa untuk menemukan, menguji, dan membangun pengetahuan mereka sendiri,” tuturnya.

Selain itu, Rasimin menyoroti perlunya mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari.

“Konsep matematika dapat dipraktikkan dalam perhitungan belanja, sedangkan pelajaran IPA bisa dihubungkan dengan fenomena alam atau isu lingkungan. Dengan cara ini, siswa merasakan langsung manfaat dari apa yang mereka pelajari,” tambahnya.

Dalam aspek evaluasi, ia menyarankan penggunaan penilaian otentik. “Proyek, portofolio, atau studi kasus dapat dipakai untuk menilai proses sekaligus hasil belajar. Pendekatan ini membantu menumbuhkan rasa tanggung jawab dan menyiapkan siswa menghadapi persoalan kehidupan,” katanya.

Rasimin juga menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

“Kelas perlu dikelola agar penuh kreativitas dan motivasi. Permainan, media interaktif, maupun metode kolaboratif dapat menghadirkan pengalaman belajar yang selalu ditunggu,” ujarnya.

Narasumber kedua, Normalia Eka Pratiwi, M.Pd., Kepala SDN 2 Kutoharjo sekaligus fasilitator pembelajaran mendalam, membagikan pengalaman praktik di sekolah dasar.

Ia menuturkan bahwa guru dapat mengajak siswa membuat produk dari barang bekas di rumah, misalnya pot dari botol plastik.

Kegiatan ini mengajarkan pentingnya menjaga bumi, melatih kerja sama, serta menumbuhkan keberanian untuk mempresentasikan karya di depan kelas.

Normalia juga memberikan contoh pembelajaran lintas disiplin. “Dalam mata pelajaran matematika, siswa diajak menghitung luas halaman sekolah. Hasil perhitungan tersebut kemudian dikaitkan dengan pelajaran IPA tentang resapan air dan geografi mengenai konservasi lingkungan. Dengan cara ini, siswa dapat melihat hubungan antarilmu dan memahami persoalan konkrit di sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan refleksi dan penguatan literasi spiritual memiliki peranan penting dalam proses deep learning.

“Setelah membaca cerita rakyat atau kisah inspiratif, siswa diminta menuliskan nilai moral yang mereka peroleh, lalu membicarakannya bersama teman. Aktivitas ini menumbuhkan kesadaran diri dan memperkuat sikap empati,” ungkapnya.

Moderator acara, MS Viktor Purhanudin, M.Pd., menutup diskusi dengan mengajukan pertanyaan reflektif kepada peserta.

“Setelah mendengar berbagai pemaparan hari ini, sudah siapkah kita semua menghadirkan pembelajaran yang benar-benar bermakna, yang menumbuhkan literasi dan memampukan generasi muda menghadapi tantangan abad 21?” tanyanya.(sas)

Editor : Tasropi
#Zoom Meeting #Hari Literasi Internasional #UIN Salatiga