Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

APSI Bedah Buku Prof. Kasiyan, Angkat Isu Paradigma Pendidikan Seni di Indonesia

Dhinar Sasongko • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 21:39 WIB
Asosiasi Pendidik Seni Indonesia (APSI) menggelar bedah buku Dua Basis Paradigma Pendidikan
Asosiasi Pendidik Seni Indonesia (APSI) menggelar bedah buku Dua Basis Paradigma Pendidikan

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA, Radar Semarang - Asosiasi Pendidik Seni Indonesia (APSI) menggelar bedah buku Dua Basis Paradigma Pendidikan Seni karya Prof. Dr. Kasiyan, M.Hum. dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bersama B. Muria Zuhdi, M.Sn. melalui platform Zoom pada Sabtu (30/8). Kegiatan ini diikuti secara luas oleh ratusan akademisi, seniman, mahasiswa, dan pemerhati seni dari berbagai daerah yang menyimak jalannya acara secara virtual.

 

Buku ini membahas kondisi pendidikan seni di Indonesia yang masih berada di antara dua paradigma besar. Paradigma humanisme menempatkan seni sebagai sarana pembentukan karakter dan kemanusiaan, sedangkan pragmatisme melihat seni sebagai keterampilan praktis untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Perbedaan pandangan tersebut kerap membuat arah pendidikan seni belum konsisten, sehingga diperlukan kerangka baru yang lebih menyeluruh dan sesuai perkembangan zaman.

 

Ketua Umum APSI Prof. Dr. Agus Cahyono, M.Hum. memberikan apresiasi yang tinggi. Ia menilai buku ini terbit pada saat yang tepat ketika literatur pendidikan seni masih terbatas. “Karya ini seperti oase yang menyegarkan. Di tengah kurangnya buku yang mendalami pendidikan seni, buku ini memberi kontribusi besar bagi pengembangan ilmu dan praktik di lapangan,” ujarnya.

 

Prof. Agus juga menegaskan bahwa perdebatan mengenai posisi pendidikan seni masih berlangsung, apakah dipahami sebagai media pendidikan atau sebagai sarana pewarisan budaya. Ia menilai para pendidik seni perlu terlibat langsung dalam proses perumusan kebijakan. Mengutip pemikiran Montesquieu tentang trias politica yang membagi kekuasaan negara menjadi eksekutif, legislatif, dan yudikatif, Agus menilai penting bagi kalangan seni ikut serta dalam proses kebijakan agar pendidikan seni memperoleh perhatian yang layak.

 

Lebih jauh, Agus memaparkan beberapa langkah yang bisa ditempuh intelektual seni. Upaya yang dapat dilakukan antara lain membangun jaringan kerja sama antarpendidik, memperkuat penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta menyampaikan gagasan dalam forum-forum kebijakan. Dengan cara ini, suara dan pemikiran dari dunia seni dapat memberi warna dalam kebijakan publik.

 

Sebagai pembedah, Dr. Eko Sugiarto, M.Pd., Ketua Program Studi S2 Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang, menilai buku tersebut memberikan wawasan baru dalam membaca pendidikan seni. “Selama ini pendidikan seni sering dipahami hanya sebatas keterampilan teknis. Buku ini justru mengajukan analisis filosofis dengan merujuk pada gagasan Thomas Kuhn tentang paradigma. Meski sebagian besar isi masih bersifat teoretis, saya berharap edisi berikut bisa lebih praktis sehingga mudah dipakai guru seni di sekolah,” tuturnya.

 

Pandangan lain datang dari Viktor Purhanudin, anggota APSI, yang menyoroti akar persoalan dualitas paradigma seni. Ia menyebut perbedaan orientasi pendidikan seni berakar dari warisan kolonialisme dan pengaruh kultur feodalisme. “Dualitas paradigma ini merupakan jejak panjang sejarah yang masih kita rasakan. Buku ini bisa menjadi sarana refleksi agar pendidikan seni di Indonesia tumbuh lebih mandiri dan mampu menjawab tantangan zaman,” ujarnya.

 

Acara bedah buku dipandu oleh Prof. Dr. Djuli Prambudi, M.Sn., dosen Program Doktor (S3) Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Suasana diskusi berlangsung dinamis dengan banyak masukan dan pertanyaan dari peserta. 

 

Menutup kegiatan, Prof. Agus menyampaikan harapan besar. Ia menilai Dua Basis Paradigma Pendidikan Seni dapat memicu peningkatan literasi sekaligus mendorong peran aktif pendidik seni dalam ranah kebijakan publik. “Kita perlu membawa perspektif seni ke dalam ruang kebijakan agar pendidikan seni mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat dan membangun generasi yang kreatif serta berkarakter,”

pungkasnya.(sas)

Editor : Tasropi
#paradigma pendidikan #bedah buku #apsi