RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - "Generasi bangsa saat ini harus punya daya ledak literasi. Mereka harus mampu membentuk opini publik secara objektif dan mencerdaskan di tengah derasnya arus informasi digital,” tegas Dr. H. Agus Suryo Suripto, M.H., Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (UAPK) UIN Salatiga saat membuka Workshop Penulisan Berita dan Opini Koran Media Massa, Kamis (30/7), di Perpustakaan UIN Salatiga.
Menurutnya, keterampilan menulis di era klik cepat menjadi kebutuhan utama agar masyarakat tidak larut dalam banjir informasi yang dangkal. Ia mengapresiasi langkah UPT Perpustakaan UIN Salatiga yang menyelenggarakan kegiatan ini sebagai bagian dari gerakan literasi kampus yang berdampak luas.
“Saya angkat jempol setinggi-tingginya untuk acara ini. Ini merupakan ikhtiar untuk menumbuhkan generasi yang mampu menyaring informasi, mengembangkan gagasan, dan menyuarakan nilai-nilai kebangsaan melalui tulisan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala UPT Perpustakaan UIN Salatiga, Ifonilla Yenianti, S.Pd.I., S.IPI., M.A., menekankan pentingnya membiasakan menulis sebagai bagian dari budaya literasi. Ia mendorong para pustakawan, guru, pegiat literasi, dan mahasiswa untuk aktif menuliskan kegiatan literasi dan pemikiran cerdasnya dalam meningkatkan minat baca di Kota Salatiga.
“Menulis di media massa—baik berupa berita maupun opini—merupakan jejak digital yang akan terus bersuara. Maka, belajarlah menyuarakan ide-ide cerdas dalam wadah yang legal dan elegan, yaitu media massa,” ungkapnya.
Workshop ini diperkaya dengan kehadiran dua narasumber utama Dhinar Sasongko, jurnalis senior Jawa Pos Radar Semarang, dan MS Viktor Purhanudin, M.Pd., dosen FTIK UIN Salatiga sekaligus penulis aktif di berbagai media nasional.
Dhinar menekankan pentingnya keberanian berpikir deduktif dalam kerja jurnalistik, terutama di tengah tekanan klik cepat dan konten viral. “Menjadi jurnalis itu soal kemauan. Kemauan untuk menyusun fakta menjadi narasi objektif. Apalagi sekarang, ketika banyak narasi miring beredar, tulisan yang jernih dan akurat adalah alat untuk menjaga kualitas informasi,” jelasnya.
Viktor mengajak peserta membebaskan diri dari tekanan perfeksionisme melalui teknik free writing saat menulis opini. Ia menyarankan agar peserta mencermati fenomena sosial dan mengaitkannya dengan momentum nasional untuk dilatih menjadi bahan tulisan.
Ia juga mengutip gagasan Hernowo Hasim yang dikenal luas dengan pendekatan menulis dari hati. “Latihan menulis bebas bisa dimulai dengan menulis apa pun yang melintas di kepala selama lima belas menit tanpa jeda, tanpa mengoreksi. Prinsipnya: tuliskan saja dulu. Ini cara sederhana namun ampuh untuk mengalirkan ide yang tersumbat dan membiasakan keberanian berpikir,” terang Viktor.
Kegiatan ini diikuti lebih dari puluhan peserta dari berbagai latar belakang, seperti pustakawan sekolah se-Kota Salatiga, pengelola Taman Bacaan Masyarakat, pustakawan perguruan tinggi di Jawa Tengah, anggota Saka Pustaka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga, serta peserta daring dari berbagai daerah di Indonesia.
Workshop ini menjadi ruang belajar bersama untuk memahami bahwa menulis adalah tindakan sosial yang berdampak. Peserta dilatih menjadikan tulisan sebagai sarana menyampaikan ide, memperkuat budaya literasi, dan menyentuh nurani pembaca.(sas)
Editor : Tasropi