RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga memperkuat kontribusinya dalam pengembangan kebijakan pendidikan nasional melalui kerja sama dengan lima direktur di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kolaborasi ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program Peningkatan Mutu Pendidikan Islam melalui Swakelola Tipe II Tahun 2025, sebuah agenda strategis yang didesain untuk memperluas ruang dialog, refleksi, dan penguatan tata kelola pendidikan Islam berbasis keilmuan dan kebutuhan nyata.
Kesepakatan ini dibahas dalam rapat koordinasi nasional yang berlangsung pada Rabu (23/7), di Jakarta, yang mempertemukan jajaran Ditjen Pendidikan Islam dengan sejumlah Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKIN) mitra pelaksana.
FTIK UIN Salatiga ditunjuk sebagai pelaksana karena dinilai memiliki kesiapan teknis, status Badan Layanan Umum (BLU), serta rekam jejak yang baik dalam pengelolaan program-program swakelola.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., menyampaikan bahwa program ini secara epistemologi bersumber dari semangat untuk membangun sistem pendidikan Islam yang terhubung dengan nilai-nilai moral dan sosial masyarakat.
“Program ini merupakan bagian dari arus besar pembangunan pendidikan Islam yang lebih terhubung dengan dimensi etika, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Lima Direktur yang bekerja sama dalam pelaksanaan program ini meliputi Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) yang dipimpin Prof. Dr. Phil. Sahiron; Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah (GTK) oleh Dr. Thobib Al Asyhar, S.Ag., M.Si.; Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah oleh Prof. Dr. Nyanyu Khotijah; Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren oleh Dr. Basnang Said; serta Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dipimpin oleh Dr. H. M. Munir, M.Ag Kelima direktur ini akan menjadi mitra pengarah, fasilitator, dan evaluator teknis dalam pelaksanaan program.
Dekan FTIK UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, menyambut baik kepercayaan tersebut. Ia menilai bahwa pelibatan kampus dalam program strategis ini memperkuat posisi akademisi dalam pengembangan arah dan substansi pendidikan Islam nasional.
“Kami menyambut baik kepercayaan ini. FTIK UIN Salatiga siap menjalankan program dengan semangat kolaboratif dan profesional. Kolaborasi ini menjadi ruang belajar bersama antara kampus, pemerintah, dan masyarakat,” tuturnya.
Program Swakelola Tipe II memfasilitasi lima bentuk kegiatan utama, yaitu penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan kepemimpinan pendidikan Islam, pelatihan kebijakan publik bagi dosen dan mahasiswa, seminar nasional tentang legislasi pendidikan Islam, workshop penyusunan aspirasi dan rekomendasi kebijakan, serta sosialisasi regulasi strategis seperti PMA terbaru, bantuan riset, pelaksanaan PPG, pembiayaan SBSN dan BOPTN, serta penguatan moderasi beragama.
Rancangan program ini ditujukan untuk membangun ekosistem pendidikan yang reflektif, kolaboratif, dan berbasis kebutuhan lokal.
Forum-forum kegiatan yang terbentuk diharapkan menjadi wadah pertukaran gagasan antara pemerintah dan masyarakat pendidikan Islam, sekaligus ruang produksi kebijakan yang lebih responsif terhadap kenyataan institusional dan sosial.
Kementerian Agama RI menargetkan sejumlah capaian penting dari pelaksanaan program ini, termasuk terbangunnya komunikasi yang konstruktif antara pusat dan daerah, tersusunnya rekomendasi kebijakan yang relevan, meningkatnya literasi kebijakan di lingkungan akademik, serta tersedianya data kebijakan dari lapangan untuk mendukung pengambilan keputusan strategis di tingkat nasional.
Seluruh kegiatan akan dilaksanakan secara bertahap dan dilaporkan secara terstruktur melalui dokumen akademik, keuangan, dan dokumentasi substansial.
FTIK UIN Salatiga menyatakan komitmennya untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan menjunjung prinsip akuntabilitas, partisipasi, dan kebermanfaatan jangka panjang.
Menutup forum koordinasi, Prof. Sahiron menyampaikan harapan besarnya terhadap keberlanjutan program ini.
“Saya berharap program ini menjadi forum pembelajaran bersama yang melibatkan kampus, masyarakat, dan negara secara sejajar. Dari program ini, kita tidak hanya menyusun rekomendasi, tapi juga membangun arah baru pendidikan Islam Indonesia,” pungkasnya.(sas)
Editor : Tasropi