Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

FTIK UIN Salatiga Bangun Dialektika Kelembagaan bersama DPR RI: Menggali Filosofi Ruang, Menata Masa Depan Pendidikan Islam

Dhinar Sasongko • Jumat, 11 Juli 2025 | 02:12 WIB
FTIK UIN Salatiga Bangun Dialektika Kelembagaan bersama DPR RI: Menggali Filosofi Ruang, Menata Masa Depan Pendidikan Islam
FTIK UIN Salatiga Bangun Dialektika Kelembagaan bersama DPR RI: Menggali Filosofi Ruang, Menata Masa Depan Pendidikan Islam

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga membangun relasi kelembagaan lintas sektor dengan lembaga legislatif nasional melalui kunjungan ke kantor anggota DPR RI Firnando Ganinduto di Jakarta.

Kunjungan tersebut dilakukan oleh Dekan FTIK, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., didampingi oleh MS Viktor Purhanudin, M.Pd., dosen sekaligus peneliti kurikulum dan budaya institusional, Kamis (10/7).

Pertemuan ini dimaksudkan sebagai ruang temu gagasan antara lingkungan akademik dan ruang kebijakan negara.

Momen reses parlemen digunakan sebagai titik temu yang memungkinkan pertukaran pemikiran secara lebih reflektif, dengan harapan dapat memperluas cakrawala pengelolaan pendidikan tinggi Islam yang lebih bermakna.

Firnando Ganinduto merupakan legislator muda dari Partai Golkar yang mewakili Daerah Pemilihan Jawa Tengah I.

Ia memiliki latar belakang pendidikan di Amerika Serikat dan pengalaman magang profesional di Matrik Capital, New York.

Setelah menyelesaikan masa studi dan mendapatkan tawaran kerja yang menjanjikan, ia memilih pulang ke Indonesia untuk terlibat dalam kerja-kerja kebijakan dan penguatan ekonomi nasional.

Dalam kunjungan tersebut, Prof. Rasimin dan Viktor diterima oleh Tenaga Ahli DPR, Tri Rahayu Kinanti, S.Kep., M.Pd. Ia menjelaskan konsep tata ruang kantor DPR yang berpijak pada prinsip keterbukaan, efisiensi, serta kemudahan interaksi antarpegawai dan antarbagian.

“Filosofi ruang di lingkungan kerja kami dibangun untuk mendukung komunikasi yang terbuka dan akses yang adil. Setiap sudut disusun agar orang mudah berinteraksi dan saling menguatkan. Ini bagian dari etika pelayanan,” terang Tri Rahayu.

Ia menyampaikan bahwa tata letak kantor disusun secara non-hierarkis.

Banyak ruang kerja bersifat fleksibel, meja staf disusun sejajar, dan sirkulasi antarunit dibuat terbuka tanpa sekat-sekat dominasi formal.

Prof. Rasimin mengapresiasi pendekatan tersebut.

Menurutnya, tata ruang adalah refleksi dari cara berpikir kelembagaan.

Ia menyatakan bahwa ruang fisik tidak netral, melainkan mewakili nilai dan kebiasaan kerja yang terbangun di baliknya.

“Ruang kerja di perguruan tinggi sejatinya adalah bentuk konkret dari nilai yang dihidupi oleh institusi. Ia menjadi medium pembiasaan. Filosofi ruang yang kami pelajari hari ini memberi bekal untuk menata ulang kebiasaan kelembagaan di fakultas,” ujar Prof. Rasimin.

Diskusi berlanjut pada gagasan pembaruan struktur ruang di lingkungan FTIK.

Beberapa rencana yang mengemuka antara lain pengembangan ruang dosen yang lebih terbuka dan ramah diskusi, penataan ruang kelas yang mendorong partisipasi aktif, serta layanan administrasi yang menyentuh sisi humanis.

MS Viktor Purhanudin menambahkan bahwa desain ruang mampu membentuk cara berpikir kolektif, budaya organisasi, serta ekosistem pembelajaran.

“Ruang memengaruhi cara kita memandang satu sama lain. Ruang yang terbuka mengundang dialog. Ruang yang pengap mematikan inisiatif. Maka perubahan desain adalah langkah awal dari perubahan kultur,” ungkap Viktor.

Kunjungan ini akan dilanjutkan dengan kehadiran Firnando Ganinduto ke FTIK UIN Salatiga.

Pertemuan tersebut tengah dipersiapkan sebagai sarana pertukaran gagasan antara mahasiswa, dosen, dan representasi negara. Isu-isu yang akan diangkat mencakup pendidikan berbasis nilai, investasi sosial berbasis komunitas, serta penguatan peran generasi muda dalam ranah kebijakan.

“Kami ingin membangun ruang perjumpaan yang hidup. Bukan untuk menyampaikan program, melainkan mendengarkan harapan dan membuka ruang kolaborasi. Pendidikan Islam mesti menyapa kebijakan dengan gagasan dan empati,” tutur Prof. Rasimin.

FTIK juga sedang menyusun beberapa inisiatif lanjutan, antara lain penyelenggaraan diskusi tematik lintas disiplin, lokakarya perancangan ruang belajar kolaboratif, serta program pengabdian masyarakat berbasis rekayasa kelembagaan.

Seluruh gagasan tersebut diharapkan mampu mendorong perubahan yang bertumpu pada nilai, bukan semata pada prosedur.

Dengan menjadikan filosofi ruang sebagai awal percakapan, FTIK UIN Salatiga memulai gerakan pembaruan dari yang terkecil: dari penataan meja, sirkulasi udara, pola duduk, hingga interaksi harian.

Kampus dibayangkan bukan sebagai bangunan administratif, melainkan sebagai habitat nilai yang dirawat terus-menerus.

“Kami sedang belajar bukan dari seminar, tapi dari dinding dan pintu, dari jarak antar meja dan suasana cahaya. Pendidikan tinggi tumbuh bukan dari program semata, melainkan dari cara kita merawat ruang dan menyambut satu sama lain,” pungkas Prof. Rasimin.(sas)

Editor : Tasropi
#Rasimin #UIN Salatiga