Melalui ritus, tuturan, dan simbol adat, nilai-nilai keagamaan diwariskan secara turun-temurun kepada masyarakat.
Hal tersebut disampaikan oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., saat membuka acara Pagelaran Seni bertema Kreativitas Cipta Karya dalam Inovasi dan Gerak Seni yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dan Kelas Khusus Internasional (KKI) FTIK UIN Salatiga, Rabu (2/7), di Auditorium Gedung Ahmad Dahlan.
Pagelaran ini menampilkan berbagai karya seni mahasiswa yang mengangkat nilai budaya lokal dan keagamaan.
Bentuk pertunjukan meliputi tari tradisional, musik etnik, drama edukatif anak, serta puisi naratif berbasis tradisi lisan Nusantara.
Setiap penampilan disusun secara kolaboratif dengan semangat ekspresi budaya dan nilai pendidikan.
Suasana auditorium dipenuhi antusiasme sivitas akademika, termasuk dosen, mahasiswa, dan tamu undangan.
“Tradisi lisan di Indonesia memiliki bentuk dan fungsi yang sangat kaya. Dongeng, mitologi, legenda, serta sistem pandang dan religi masyarakat menjadi bagian penting dalam penguatan identitas kultural. Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan antara nilai keagamaan dan kebudayaan,” ujar Rasimin.
Ia menyampaikan bahwa dialog antara agama dan budaya melalui tradisi lisan memberikan dampak luas dalam kehidupan masyarakat.
Berbagai hasil riset menunjukkan bahwa tradisi ini memperkuat kohesi sosial serta memelihara warisan spiritual dan moral di berbagai wilayah.
Contoh konkret dapat ditemukan pada tradisi lisan Mekato di kalangan masyarakat suku Kluet, Aceh, yang menyampaikan pesan moral dan religius melalui tuturan adat. Tradisi Nenggung di Sumatra Selatan memperlihatkan integrasi antara bahasa, religi, dan kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat.
Sementara di Nusa Tenggara Timur, cerita mitos Wawi Tolo atau Babi Merah dikisahkan oleh masyarakat suku Keo secara turun-temurun. Warga Muslim di daerah tersebut menjunjung tinggi warisan leluhur dan menjaga nilai-nilai keimanan berdasarkan adat dan ajaran agama.
Prof. Rasimin juga mengulas khazanah sastra Jawa seperti Sastra Suluk.
Dalam tradisi sufi, Suluk berarti menempuh jalan spiritual menuju Tuhan. Di Jawa, terdapat lebih dari 150 judul Suluk yang mengandung ajaran moral dan spiritual.
Ia menambahkan bahwa manuskrip Jawa juga memuat nilai religius dan tradisi dalam bentuk kitab serta primbon, yang memperlihatkan kedalaman pandangan hidup masyarakat.
Ketua Prodi PIAUD FTIK UIN Salatiga, Agung Hidayatullah, M.Pd., menyatakan bahwa kegiatan ini mencerminkan visi dan misi PIAUD dalam membentuk pendidik anak usia dini yang kreatif, inovatif, serta berbasis nilai Islam dan budaya lokal.
“Pagelaran seni menjadi media pembelajaran yang efektif. Mahasiswa dilatih mengekspresikan nilai pendidikan melalui karya budaya yang mendidik dan menyentuh aspek spiritualitas,” jelas Agung.
Direktur KKI FTIK UIN Salatiga, Muslimah Susilayati, M.Pd., menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan program internasionalisasi. Mahasiswa KKI didorong untuk menggali dan mengangkat potensi lokal dalam konteks global melalui riset tematik, kolaborasi, dan dokumentasi ilmiah.
“Pagelaran seni menjadi landasan kokoh dalam pengembangan program KKI yang berorientasi pada inovasi, internasionalisasi, dan pelestarian nilai lokal. Ini akan kami lanjutkan melalui publikasi dan kegiatan kolaboratif lintas budaya,” ujarnya.
Dosen Seni Tari FTIK UIN Salatiga, Dewi Wulandari, M.Sn., menyoroti pentingnya semangat batin atau spirit dalam setiap karya seni yang ditampilkan.
Ia menilai bahwa setiap gerak, bunyi, dan ekspresi yang dibawakan mahasiswa mengandung kekuatan spiritual dan kedalaman makna.
“Setiap karya memiliki nyawa. Jiwa dalam seni menghadirkan refleksi, spiritualitas, dan kepekaan terhadap nilai-nilai luhur. Inilah esensi seni sebagai medium yang menyentuh kesadaran terdalam manusia,” ungkap Dewi.
Menutup pernyataannya, Prof. Rasimin menyatakan bahwa kegiatan seni yang diinisiasi Prodi PIAUD dan KKI FTIK UIN Salatiga ini merupakan upaya pelestarian tradisi lisan dalam bentuk konkret dan kontekstual di lingkungan akademik.
“Kegiatan seperti ini perlu terus dikembangkan. Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pagelaran seni ini,” tandasnya.(sas)
Editor : Tasropi