RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Dalam pagelaran seni mahasiswa bertajuk Kaladarshana: Luhuring Budaya Gumanthing Panguripan yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta, Senin (26/5).
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., menyampaikan pandangannya tentang pentingnya menjaga watak demokrasi dalam praksis pendidikan seni.
“Estetika seni sejati itu berwatak demokrasi. Seni menjadi wadah merdeka bagi jiwa, imajinasi, dan keberanian menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya saat menyaksikan langsung penampilan kolaboratif mahasiswa PGMI FTIK UIN Salatiga bersama mahasiswa dari berbagai PTKIN se-Indonesia.
Menurut Rasimin, praktik kesenian dalam ekosistem pendidikan tinggi perlu dikembangkan dalam atmosfer yang terbuka, jujur, dan reflektif.
Ia mengamati bahwa kecenderungan simbolik dalam kehidupan akademik dapat menjadikan ekspresi artistik kehilangan kedalaman, terutama ketika diarahkan pada penonjolan status dan pencitraan institusional.
Ia mengutip konsep timokrasi dari Majalah Basis sebagai kerangka untuk memahami gejala tersebut.
Dalam pertunjukan tersebut, mahasiswa PGMI menampilkan drama musikal lintas disiplin yang menggabungkan unsur tari, musik, teater, dan visual.
Karya mereka menyuarakan gagasan tentang ekologi, budaya, dan spiritualitas lokal yang dikemas dalam bentuk artistik yang dinamis.
Rasimin menyatakan bahwa energi kreatif mahasiswa muncul dari proses kolektif yang dijalankan secara otonom.
“Mereka menyusun narasi, menciptakan gerak, merancang simbol visual. Prosesnya tumbuh dari kerja sama yang menghargai kebebasan berpikir,” katanya.
Dinda Ayu Maharani, salah satu mahasiswa PGMI FTIK UIN Salatiga, mengungkapkan bahwa proses latihan dan penciptaan karya menjadi pengalaman yang mendalam bagi seluruh tim.
“Waktu kami latihan berhari-hari, rasanya seperti merancang sesuatu yang lahir dari dalam. Kami membicarakan naskah, mendiskusikan gerakan, dan saling memberi peluang untuk berkembang. Semua tumbuh bersama,” tuturnya.
Ketua Program Studi PGMI, Wulan Izzatul Himmah, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari pelaksanaan prinsip Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
“Mahasiswa belajar langsung dari realitas proses. Mereka mencipta, menjalin kerja tim, dan mengalami pengalaman budaya yang otentik. Ini adalah pembelajaran yang berdampak pada pertumbuhan cara berpikir dan kepekaan sosial,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa aktivitas semacam ini memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan narasi pribadi dalam lanskap kebudayaan yang hidup.
Terkait tindak lanjut, Wulan menyampaikan bahwa pihak prodi akan membangun jalur keberlanjutan dari kegiatan ini melalui skema kurikulum dan kerja kolaboratif.
“Kegiatan semacam ini akan kami formulasikan menjadi bagian dari program unggulan Prodi PGMI, termasuk di dalam mata kuliah berbasis proyek, program magang tematik kebudayaan, serta platform eksibisi lintas kampus. Harapannya, pengalaman ini dapat berkembang menjadi pola pembelajaran yang berkelanjutan,” tegasnya.
Dewi Wulandari, M.Sn., dosen seni tari PGMI, menyoroti kegiatan ini dari aspek pedagogi, neurosains, dan bahasa.
“Setiap tahap proses—dari pembacaan naskah hingga tampil di panggung—melibatkan koordinasi tubuh, emosi, dan memori sosial. Ini penting bagi perkembangan empati, refleksi, dan kesadaran relasional,” katanya.
Ia juga mengulas makna semantik dari tema kegiatan.
“Kaladarshana berarti pandangan terhadap masa, sedangkan Luhuring Budaya Gumanthing Panguripan mengandung makna kemuliaan budaya yang memberi daya hidup. Tema ini mengajak kita untuk memandang budaya sebagai sumber nilai yang terus menghidupkan dan membimbing,” jelasnya dengan nada reflektif.
Pagelaran ini memperlihatkan bahwa kesenian dalam konteks akademik memiliki potensi besar untuk menumbuhkan kesadaran, memperkuat kohesi sosial, serta menjadi medium pembentukan karakter melalui pengalaman kreatif yang otentik dan bernilai.(sas)
Editor : Tasropi