RADARSEMARANG.ID - Jika anda berkunjung ke Kota Salatiga, khususnya yang melewati arah Ambarawa ataupun Tuntang dari jalur Banyubiru-Salatiga.
Tentunya anda akan melewati sebuah patung berbentuk gajah di pinggir jalan pertigaan yang pasti langsung menarik perhatian para pengendara.
Meskipun banyak warga Tuntang ataupun Salatiga yang pasti familiar dengan patung ini, namun perlu diketahui bahwa ada sejarah menarik yang melatarbelakangi pendirian patung tersebut.
Bagaimana kisah dan sejarah yang melatari patung gajah identitas warga Sraten tersebut? berikut penjelasan secara singkatnya.
Asal Usul Patung Gajah Sraten
Patung yang telah menjadi trademark bagi Kelurahan Sraten tersebut memang kebanyakan digunakan warga Salatiga dan sekitarnya untuk penunjuk arah yang berkaitan dengan wilayah tersebut.
Wilayah ini, berdekatan dengan posisi berdirinya Kampus 3 UIN Salatiga kerapkali menampung lokasi kost dari para mahasiswa perantau yang berkuliah di universitas tersebut.
Menurut sejarah yang dikemukakan oleh Dr.Tri Widiarto Soemardjan dalam website resmi Kelurahan Sraten, ia menjelaskan asal muasal kenapa di wilayah tersebut erat kaitannya dengan binatang gajah (Elephas Maximus).
Meskipun kini menjadi wilayah padat penduduk, namun dahulu kala tempat ini memang dikenal masyarakat jaman dahulu sebagai tempat pemukiman para pawang gajah beserta kandang dari binatang bertubuh besar ini.
Gajah sendiri merupakan binatang suci yang dihormati masyarakat dalam budaya Hindu-Buddha, binatang ini juga merupakan tunggangan bagi para pemuka agama ataupun raja.
Hal lain yang terlihat jelas adalah penamaan daerah ini sendiri, secara etimologis kata Sraten memiliki arti Srati yang dapat ditelusuri dari bahasa Jawa Kuno bermakna Pawang Gajah.
Hal lain dapat dibuktikan dari unsur religi yang ada di sekitaran wilayah Sraten pada jaman dahulu, wilayah ini diperkirakan merupakan berkembangnya kebudayaan Hindu-Buddha di masa lalu.
Baca Juga: Patung Bung Karno Sudah Kokoh Berdiri, Giliran Polder Dinormalisasi
Contohnya penemuan lingga di daerah Candi Soba, ada juga penemuan yoni di Pulutan. Lalu ada juga berbagai penemuan baturan, lingga, yoni bahkan candi di sekitaran Rowoboni.
Hal ini mengindikasikan bahwa wilayah tersebut menjadi salah satu epicentrum tempat padat peradaban yang dahulu pernah ada. Paling tidak menjadi tempat tinggal dari para pawang gajah.
Wilayah ini juga menjadi jalur bagi penyebaran agama islam yang dilakukan oleh Ki Ageng Pandanaran dari Kota Semarang melewati Banyubiru lalu ke Salatiga.
Namun ada juga pendapat lainnya yang menyatakan bahwa asal muasal penamaan daerah Sraten ini berasal dari kisah yang menyatakan bahwa daerah ini adalah tempat singgah peristirahatan bangsawan Jawa masa lalu dengan para pawang gajahnya.
Source: Website Resmi Sraten Kabupaten Semarang
Editor : Baskoro Septiadi