Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kisah Arthur Rimbaud, Penyair Prancis yang Kena Mental di Salatiga Lalu Desersi Dari Perang Aceh

Aby Genta Putra Prasetya • Kamis, 7 November 2024 | 17:24 WIB
Potret Arthur Rimbaud, Penyair Kondang Prancis yang Desersi Dari Perang Aceh
Potret Arthur Rimbaud, Penyair Kondang Prancis yang Desersi Dari Perang Aceh

RADARSEMARANG.ID - Sebuah ungkapan tentang seniman  tak cocok untuk menjadi tentara, sebaliknya tentara juga tak cocok menjadi seniman merupakan stereotype lawas yang nampaknya pas untuk Arthur Rimbaud.

Siapakah dia? dan mengapa nama tersebut menarik untuk dibahas? jadi, Arthur Rimbaud adalah seorang penyair dan sastrawan kenamaan dari negara Prancis di abad ke-19.

Rimbaud menjadi sastrawan termuda serta paling terbaik di masa tersebut dikarenakan hampir semua puisinya menang dalam berbagai kompetisi sastra di Prancis.

Saat itu usianya masih 15 tahun, dan karirnya telah melejit bak pesawat luar angkasa. Ia pun hidup dengan segala kemewahan dan popularitas yang menggandrunginya.

Ia merupakan sosok yang banyak diidolakan oleh para seniman serta menjadi role-model bahkan setelah kematiannya, beberapa seniman tersebut adalah Patti Smith dan Jim Morrison.

Di Salatiga, Rimbaud dikenal sebagai penyair yang pernah desersi dan kabur dari Hindia Belanda dikarenakan melihat terror dari kekejaman perang yang ada di Hindia Belanda.

Kala itu, Rimbaud muda yang sudah kehilangan semua hartanya pun hidup dengan menggelandang. Mau tak mau ia harus mengais uang demi menghidupi dirinya sendiri. Namun, jiwa Bohemiannya belum sepenuhnya luntur dari dirinya.

Demi mengais rezeki, ia pun mendaftarkan diri ke Angkatan Perang Belanda, meskipun ia adalah orang Prancis. Hal itu ia lakukan karena ia tahu persis tentara di negaranya hanya dikirimkan ke koloni Afrika yang kala itu dikuasai Prancis.

Rimbaud yang memiliki jiwa petualang tak ingin perjalananannya hanya sebatas Prancis-Afrika. Maka iapun memilih untuk berada di korps Tentara bayaran Kerajaan Hindia-Belanda (KNIL) dan mendaftar ke Handerwiljk, Belanda.

Surga tropis hasil laporan para penyair Eropa itu berhasil menarik Rimbaud untuk mengunjunginya, bahkan menjadi tentara yang akan menjaga wilayah tersebut. Rimbaud tentunya amat senang.

Berangkat dari Belanda, iapun kemudian sampailah ke Batavia (kini Jakarta) ibukota dari Hindia-Belanda. Dari Batavia ia kemudian bersama regunya dikirim ke Semarang lalu menuju Salatiga menggunakan Kereta Api.

Di Salatiga, tepatnya di tangsi Tuntang, banyak hal mengerikan yang ia saksikan sehingga membuat nyalinya kemudian menciut dan ingin segera kembali ke Eropa.

Baca Juga: Sejarah dan Stigma Buruk Klub Motor Berawal dari Para Tentara Paska Perang Dunia Kedua

Hal ini diperparah dengan kematian teman se-negaranya; Auguste Michaudeau yang tewas karena penyakit misterius dengan begitu tiba-tiba. Rimbaud makin kacau dibuatnya.

Arthur Rimbaud yang sudah 'kena mental' di Salatiga selanjutnya makin ketakutan saat tahu korpsnya akan diberangkatkan ke Aceh untuk menumpas perjuangan rakyat disana, Aceh sendiri kala itu terkenal dengan kegigihan serta antipati kepada orang-orang Eropa yang amat kental.

Mengetahui hal ini, Rimbaud tanpa pikir panjang langsung memutuskan untuk desersi militer dan kembali ke kampung halamannya, baginya yang terpenting ia sudah menginjakkan kaki di Jawa: surga tropis yang termahsyur itu.

Ia pun segera mengurus segala hal tentang kepulangannya dari Salatiga, kepada orang-orang Belanda, ia mengatakan kepulangannya karena ia ingin melakukan ibadah.

Menggunakan dokar (delman), Rimbaud dengan cepat lari tunggang langgang dari Salatiga ke pelabuhan Semarang. Disana ia kemudian bertemu pelaut Inggris dan segera memohon agar bisa menumpang kapal menuju Eropa.

Jejak Rimbaud sendiri di Salatiga sangat amat minim, namun bukti keberadaannya adalah sebuah prasasti peringatan yang kini berada di Rumah Dinas Walikota Salatiga.

Source: Meulaboh Museum, Kedutaan Prancis Jakarta

Editor : Baskoro Septiadi
#Penyair Arthur Rimbaud di Salatiga #Arthur Rimbaud #Arthur Rimbaud Salatiga #Desersi Dari Perang Aceh #Kisah Arthur Rimbaud