Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Momentum Sumpah Pemuda, Dekan FTIK UIN Salatiga Ajak Pemuda Junjung Integritas dan Idealisme

Dhinar Sasongko • Selasa, 29 Oktober 2024 | 03:01 WIB
Photo
Photo

RADARSEMARANG.ID, Salatiga - Indonesia memperingati 96 tahun Sumpah Pemuda. Kepada Harian Radar Semarang Jawa Pos, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., mengulas peran sejarah Sumpah Pemuda dalam membentuk identitas bangsa.

“Ketika membahas Sumpah Pemuda, saya langsung teringat aforisme Bung Karno: ‘Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.’ Dalam kacamata imagologi, adagium tersebut mencitrakan betapa dahsyatnya potensi pemuda dalam mengubah dunia,” ujarnya di ruang kerjanya.

Prof. Rasimin menyampaikan bahwa dalam momen bersejarah ini, generasi muda Indonesia perlu meresapi sekaligus mengamalkan nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam kehidupan berbangsa.

“Semangat Sumpah Pemuda harus tetap berkobar sebagai perekat kebinekaan bangsa. Oleh karena itu, pemuda masa kini perlu menjadikan nilai-nilai ini sebagai budaya, serta meneladani figur-figur inspiratif pemuda Indonesia di masa lalu,” tuturnya.

Sosok inspiratif seperti Soe Hok Gie pantas dijadikan teladan. Sebagai aktivis, penulis, dan intelektual muda, Gie dikenal atas idealisme dan ketajaman pemikirannya dalam menyikapi dinamika sosial politik Indonesia pada era 1960-an.

Lahir dari keluarga Tionghoa-Indonesia, ia menimba ilmu di Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan aktif dalam gerakan mahasiswa, terutama dalam mengkritik pemerintahan Orde Lama.

Prof. Rasimin juga membagikan inspirasi dari pemikiran Soe Hok Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran.

“Gie mengajarkan kita pentingnya keberanian dalam memegang prinsip—berani menyuarakan hati nurani dalam melawan ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan. Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda perlu memiliki pendirian teguh dan berani mempertahankannya,” ungkapnya.

Selain itu, ia menyoroti bahwa idealisme dan kejujuran adalah nilai penting yang harus dijunjung tinggi.

"Di tengah godaan kompromi, jangan biarkan pragmatisme menggerus integritas kita. Kritik yang membangun adalah bentuk cinta pada tanah air, karena dari sinilah perubahan bisa bermula," lanjutnya.

Lebih lanjut, Prof. Rasimin mengingatkan pentingnya pemikiran mandiri dan kritis, serta keberanian untuk tidak terbawa arus opini umum.

“Gie mengajarkan kita bahwa kepedulian sosial itu penting—kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri. Empati terhadap lingkungan sosial adalah tanggung jawab kita,” jelasnya.

Mengakhiri pesannya, Prof. Rasimin menandaskan pentingnya menjaga semangat dan keteguhan yang menyala di tengah tantangan zaman.

“Gie mengajarkan kita arti teguh dalam prinsip, walau harus menghadapi hambatan. Inilah esensi yang ingin saya sampaikan: jadikan mimpi perubahan sebagai dasar, lalu realisasikan dengan tindakan nyata yang dilandasi ketulusan dan keteguhan tanpa batas. Semoga, di peringatan 96 tahun Sumpah Pemuda bertema Maju Bersama Indonesia Raya, generasi muda dapat menjadikan idealisme dan integritas sebagai inti perjuangan dalam membangun Indonesia yang lebih bermakna,” pungkasnya. (sas/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#UIN Salatiga