Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Integrasi Etnopedagogik dan TPACK, Menyongsong Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang Inklusif

Dhinar Sasongko • Sabtu, 7 September 2024 | 22:33 WIB
Photo
Photo

RADARSEMARANG.ID, Salatiga - Indonesia, dengan pluralitas, multikulturalisme, serta keragaman agama dan etnis, mendapatkan inspirasi dari kunjungan Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik dan Kepala Negara Takhta Suci Vatikan, pada 3-6 September 2024.

Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., Ketua Pengelola Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) UIN Salatiga, saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Fakultas dan Ilmu Keguruan UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi pada Sabtu (7/9/2024).

Menurut Prof. Rasimin, kunjungan Paus Fransiskus membawa banyak makna semantik.

"Secara konotatif, kunjungan ini mencerminkan pesan tentang kesederhanaan, kerendahan hati, ketulusan, penghargaan terhadap sesama, dan penghormatan terhadap perbedaan," ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Rasimin menilai bahwa perilaku Paus Fransiskus selama kunjungannya mengungkapkan pesan-pesan tersebut.

"Sebagai pemimpin tertinggi, Paus Fransiskus memiliki akses ke fasilitas mewah, namun ia memilih menggunakan fasilitas komersial. Pesan tersebut juga tercermin dalam tulisannya di buku tamu saat diterima oleh Presiden," tambahnya.

Dalam buku tamu, Paus Fransiskus menulis, "Terpesona oleh keindahan negeri ini, tempat perjumpaan dan dialog antara budaya dan agama yang berbeda, saya berharap rakyat Indonesia tumbuh dalam iman, persaudaraan, dan kepedulian. Tuhan memberkati."

Menanggapi kunjungan tersebut, Prof. Rasimin mendorong peserta diskusi, yang merupakan dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dan sebagian Utusan Guru Pendidikan Agama Islam di Kota Salatiga, untuk mengintegrasikan pesan-pesan dari kunjungan Paus Fransiskus dalam pembelajaran di kelas.

"Saya mengajak para guru untuk menyerap pesan dari kunjungan Paus Fransiskus. Mari kita terapkan pembelajaran pendidikan agama Islam yang berbasis kebinekaan dan toleransi, seperti yang dicontohkan dalam pesan Paus Fransiskus. Ini juga termasuk dalam model pembelajaran etnopedagogik," tegasnya.

Sementara itu, Dr. Junaidi, S.Ag., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukit, menekankan pentingnya model TPACK dalam Pendidikan Agama Islam (PAI).

Ia menjelaskan bahwa model TPACK mengintegrasikan teknologi dengan pendekatan pedagogis dan materi ajar, menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyeluruh.

"Teknologi dalam pembelajaran agama tidak hanya memperdalam pemahaman siswa, tetapi juga meningkatkan keterlibatan mereka melalui interaksi yang lebih kontekstual," paparnya.

Dr. Junaidi menambahkan bahwa model TPACK adalah solusi untuk tantangan pendidikan abad ke-21, terutama dalam menyampaikan nilai-nilai agama yang relevan dengan perkembangan zaman.

"Pendekatan ini memungkinkan guru untuk menyajikan materi agama dengan cara yang lebih dinamis dan fleksibel, sehingga nilai-nilai spiritual dapat diajarkan dengan cara yang lebih menarik dan berkelanjutan," pungkasnya.

Dengan pesan kebajikan dari kunjungan Paus Fransiskus dan penerapan model TPACK dalam pembelajaran, serta integrasi pendekatan etnopedagogik, diharapkan para pendidik di Indonesia dapat mengadopsi pendekatan yang lebih inklusif dan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Upaya ini diharapkan memperkaya pengalaman belajar siswa serta memperkuat nilai-nilai kebinekaan dan toleransi dalam masyarakat. Melalui penerapan konsep-konsep ini, pendidikan di Indonesia dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan tantangan serta kebutuhan era modern, menghasilkan generasi yang beriman, berwawasan luas, dan saling menghormati. (sas/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#UIN Salatiga