Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

GPIB Tamansari Salatiga, Gereja Tertua di Kota Salatiga yang Bergaya Gothic Ala Eropa Kuno

Aby Genta Putra Prasetya • Minggu, 14 Juli 2024 | 01:36 WIB
Potret Bangunan Gedung Gereja GPIB Tamansari Salatiga
Potret Bangunan Gedung Gereja GPIB Tamansari Salatiga

RADARSEMARANG.ID - Persebaran agama Kristiani yang dibawa oleh para missionaris asal Eropa di masa lalu juga telah sampai di kepulauan Nusantara.

Di Pulau Jawa, banyak terdapat gereja-gereja buatan para misionaris tersebut yang hingga kini masih ada dan terus digunakan sebagai tempat peribadatan umat Kristiani.

Salah satu yang menarik untuk dikulik adalah GPIB Tamansari Salatiga, sebuah gereja kuno yang memiliki arsitektur gothic ala Eropa di masa lampau.

Bangunan berarsitektur gothic ini memiliki hiasan-hiasan molding pada sudut-sudut bangunan dan jendela-jendela bersudut runcing (ujung anak panah).

Dengan menara kecil beratapkan seng tebal terdapat lonceng buatan tahun 1828 masih terawat dan berfungsi sebagai tempat ibadah jemaat GPIB.

Gereja ini juga diketahui sebagai gereja paling tua yang dibangun di Kota Salatiga. Peninggalan masa kolonial ini masih terawat serta tidak berubah bentuk sejak dahulu.

Gereja yang berada di Jalan Sudirman 1 Salatiga atau dahulu disebut sebagai Soloose Weg, bahkan telah ada sebelum jalan raya yang menyambungkan Kota Salatiga dengan Kota Solo belum diaspal.

Umur dari gereja ini lebih tua dibandingkan dengan bangunan bersejarah disekitar wilayah ini, seperti bangunan peninggalan Hotel Berg en Dal yang belum dibangun.

Awalnya, gereja ini dibangun untuk kebutuhan rohani serta tempat beribadah masyarakat serta keluarga besar Batalyon A II Bg yang bermarkas di Jl. Ahmad Yani sekarang.

Gereja ini diketahui pernah melakukan pemugaran dan pemudaan pada bagian-bagian tertentu untuk mencegah kerusakan.

Namun tetap dengan pakem awal yang tidak diganti hingga saat ini. Pada tahun 1867, gereja ini melakukan pemugaran pertamanya pada bagian genting sirap yang berbahan seng, lalu diganti dengan kayu ulin.

Pemugaran ini dilakukan oleh Remko Phillipus Hendrikus Weiffenbach dari Zen Pasukan A II Bg Militer Opzigter. Seorang Belanda yang sampai tua tetap berada di Kota Salatiga, namun di akhir hayatnya dikebumikan di Kp. Buru.

Baca Juga: Sejarah Kantor Satlantas Polres Salatiga, Dulunya Merupakan Benteng VOC Paska Perang Jawa

Remko Philipus meninggalkan sebuah pesan yang tertulis di bagian gereja dalam Bahasa Belanda yang disadur dari Alkitab ayat Genesis 28 : 17 – 2e.

“En hij vreesde, en zeide! Hes vreselijk is deze plaats! Dit is niet dan een huis Gods, en dit is de poort des hemels!” uit de Gelofte van Jakob

Yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, kurang lebih akan berbunyi " “Saudara-saudara sekalian! Perhatikan baik-baik. Tempat ini bukan rumah Tuhan, tetapi merupakan jalan menuju Surga”.

Source: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Universitas Stekom.

Editor : Baskoro Septiadi
#GPIB Salatiga #Gereja Bergaya Gothic Salatiga #GPIB Tamansari Salatiga #Gereja Tertua di Kota Salatiga #Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat