Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sejarah ESTO, Perusahaan Transportasi Bus Pertama Indonesia yang Lahir di Salatiga

Aby Genta Putra Prasetya • Selasa, 11 Juni 2024 | 15:42 WIB
Potret Bus ESTO, PO Bus Pertama Pada Masa Hindia Belanda
Potret Bus ESTO, PO Bus Pertama Pada Masa Hindia Belanda

RADARSEMARANG.ID - Bagi para pengguna moda kendaraan bus, transportasi umum ini menjadi salah satu pilihan yang efisien dan hemat sebagai moda transportasi harian.

Meskipun penggunaannya di Indonesia masih kalah dengan moda transportasi pribadi seperti motor dan mobil, namun bus, masih menjadi kendaraan mobilitas bagi masyarakat Indonesia.

Bus yang kita kenal sekarang sudah berkembang sedemikian rupa sejak masuknya teknologi transportasi umum ini pada masa Hindia Belanda.

Di masa tersebut, bus merupakan kendaraan yang dianggap progresif namun merakyat karena lebih cepat dari kendaraan-kendaraan tradisional seperti dokar dan becak.

Terlebih bus mampu menampung lebih banyak penumpang dan mencapai jarak yang lebih jauh dengan waktu yang lebih cepat.

Sejarah Kendaraan Bus di Indonesia

Awal mula perkembangan PO bus di Indonesia tak bisa dilepaskan dari sebuah perusahaan sewa otomotif milik seorang pengusaha keturunan Tionghoa asal Kudus bernama Kwa Tjwan In.

Perusahaan persewaan ini dikenal masyarakat dengan nama Autoverhuurder, perusahaan ini bergerak dalam bidang persewaan mobil kecil kepada para orang-orang Belanda dan pengusaha besar yang merasa mobil lebih efisien ketimbang transportasi tradisional.

Para penyewa ini merasa antusias dengan perkembangan mobil yang pada masa tersebut menjadi sebuah barang mewah yang aman dan lebih prestigius.

Autoverhuurder kembali membuat inovasi dengan mendatangkan beberapa unit bus pelopor awal yang dinamai ESTO atau Eerste Salatigasche Transport Onderneming.

ESTO menjadi PO Bus pertama yang berada di wilayah Hindia Belanda pada tahun 1923 dan langsung menjadi moda transportasi favorit bagi warga Salatiga dan sekitarnya.

Menuruti permintaan pemerintah Hindia Belanda yang meminta agar ESTO memisahkan warga pribumi atau bumiputera dengan warga Belanda karena kebijakan rasial pada masa tersebut.

Baca Juga: Mitologi Cikal Bakal Nama Curug Semirang, Destinasi Wisata Alam Menenangkan di Ungaran

Generasi awal bus ESTO memiliki kapasitas dengan total 16-18 orang penumpang termasuk kru, pembagian tempat duduk disesuaikan dengan kelas strara sosial masyarakat.

Bagian depan diisi oleh supir dan satu penumpang pada sisi samping kemudi yang digunakan oleh supir. Bagian tengah diisi oleh kelas pertama yang kebanyakan merupakan warga Belanda.

Bagian tengah ini berkonfigurasi kursi nyaman berkapasitas enam orang yang menghadap ke depan sebagai layanan ekstra kepada penumpang kelas satu.

Sedangkan bagian belakang diperuntukkan bagi warga kelas dua, yang kebanyakan pribumi lokal dengan kursi rotan memanjang menghadap ke belakang.

Penumpang bus ESTO membayar tiket jasa transportasi sebesar 20 sen untuk penumpang kelas satu dan 10 sen untuk penumpang kelas dua kepada seorang kondektur yang berdiri di kursi belakang bus.

Bus-bus ESTO kebanyakan menggunakan sasis merk Chevrolet yang diproduksi di Amerika Serikat, namun pada generasi awal bus ini juga ditemukan sasis merk Ford.

Kini, ESTO sudah tidak lagi aktif dalam bidang transportasi umum, unit terakhirnya mengakhiri perjalanan panjang transportasi bus pertama di Indonesia ini pada tahun 2018.

Source: paGUYUBan Ambarawa (Fb)

Editor : Baskoro Septiadi
#ESTO Bus Pertama #Bus ESTO Salatiga #Bus Pertama di Indonesia #Sejarah ESTO Salatiga #Sejarah Bus Pertama Indonesia