Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kisah Menarik Batu Prasasti Plumpungan, Bukti Sejarah Penting Lahirnya Kota Salatiga di Jawa Tengah

Aris Hariyanto • Selasa, 28 Mei 2024 | 16:52 WIB
Batu Prasasti Plumpungan, bukti sejarah penting lahirnya kota Salatiga.
Batu Prasasti Plumpungan, bukti sejarah penting lahirnya kota Salatiga.

RADARSEMARANG.ID - Keberadaan Batu Prasasti Plumpungan telah menjadi bukti sejarah penting bagi Kota Salatiga, Jawa Tengah.

Seperti pintu gerbang menuju masa lalu, Prasasti Plumpungan mengungkapkan sejarah Kota Salatiga lebih dari 1.200 tahun lalu.

Prasasti Plumpungan berbentuk batu besar berjenis andesit berukuran panjang 170 centimeter, lebar 160 centimeter dengan garis lingkar 5 meter.

Ditemukan pada tahun 1775 di Dukuh Plumpungan, Prasasti Plumpungan menjadi bukti otentik penetapan Desa Hampra pada 24 Juli 750 M.

Dalam prasasti ini, Desa Hampra disebutnya sebagai tanah perdikan atau swatantra yang merupakan cikal bakal Kota Salatiga.

Prasasti Plumpungan dipahatkan dalam bahasa Jawa Kuno yang berisi tentang penetapan status tanah perdikan bagi Desa Hampra yang kini dikenal sebagai Salatiga.

Pahatan Prasasti Plumpungan diyakini ditulis oleh seorang pujangga yang bernama Citraleka.

Pada saat itu, Citraleka dibantu oleh beberapa pendeta atau resi dalam penulisan prasasti tersebut menggunakan bahasa Jawa kuno.

Sedangkan kalimat yang ditulis berbunyi "Srir Astu Swasti Prajabyah" yang berarti "Semoga Bahagia, Selamatlah Rakyat Sekalian".

Masyarakat Hampra telah memberikan kontribusi yang besar kepada seorang raja yang sangat peduli terhadap rakyatnya.

Nama raja tersebut adalah Raja Bhanu, yang pada saat itu menghapuskan kewajiban upeti di Hampra dan wilayah sekitarnya.

Pada masa tersebut, pemberian status perdikan dianggap sebagai sesuatu yang istimewa, tidak umum terjadi di setiap daerah.

Pemberian status istimewa ini menandakan peran penting Desa Hampra pada masa tersebut.

Sementara itu, seorang sejarahwan dan ahli Epigraf, Dr. J. G. de Casparis, telah melakukan transliterasi lengkap tulisan prasasti ini, yang kemudian diperbaiki oleh Prof. Dr. R. Ng Poerbatjaraka.

Prasasti Plumpungan telah menjadikannya sebagai salah satu cagar budaya nasional yang dilindungi di Salatiga.

Kini, Prasasti Plumpungan terawat dengan baik di kompleks Museum Salatiga, menjadi daya tarik wisata bagi para pecinta sejarah dan budaya.

Editor : Baskoro Septiadi
#Kota Salatiga #Prasasti Plumpungan #cagar budaya nasional #bahasa Jawa kuno #bukti sejarah #Museum Salatiga #Batu Prasasti Plumpungan #sejarah kota Salatiga #Desa Hampra #Andesit