Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Menarik Disimak! Ini Sejarah Kota Salatiga yang Cikal Bakalnya Sudah Tertulis Dalam Sebuah Batu Prasasti Sejak 750 M

Aris Hariyanto • Senin, 27 Mei 2024 | 22:55 WIB
Indahnya pemandangan Kota Salatiga saat dilihat dari Drone.
Indahnya pemandangan Kota Salatiga saat dilihat dari Drone.

RADARSEMARANG.ID - Kota Salatiga di Jawa Tengah mempunyai kisah sejarah yang menarik untuk disimak.

Ada beberapa sumber yang dapat dijadikan dasar untuk mengungkapkan Sejarah kota Salatiga.

Seperti dari cerita rakyat, batu prasasti, maupun penelitian dan kajian penelitian yang cukup detail.

Menurut laman resmi salatiga.go.id, dari beberapa sumber tersebut, hanya Batu Prasasti yang dijadikan dasar sejarah Kota Salatiga.

Batu Prasasti ini berukuran besar berjenis andesit dengan panjang 170cm, lebar 160cm dengan garis lingkar 5 meter.

Berdasarkan informasinya, Batu Prasasti tersebut berada di Dukuh Plumpungan, Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, yang selanjutnya disebut dengan Prasasti Plumpungan.

Cikal bakal lahirnya kota Salatiga diketahui sudah tertulis dalam batu Prasasti Plumpungan ini dan dipercaya sudah ada sejak 750 Masehi.

Prasasti Plumpungan berisi penetapan hukum status tanah Perdikan atas wilayah bernama Hampra (saat itu) yang kini dikenal sebagai Salatiga.

Pada saat itu, Dr. J. G. de Casparis, seorang sejarahwan dan ahli Epigraf, melakukan transliterasi lengkap dari teks tersebut, yang kemudian diperbaiki oleh Prof. Dr. R. Ng Poerbatjaraka.

Prasasti plumpungan diyakini dibuat pada hari Jumat, 24 Juli tahun 750 Masehi, dan ditulis oleh seorang pujangga bernama Citraleka.

Dia dibantu oleh beberapa pendeta atau resi, dan ditulis dalam bahasa Jawa kuno: "Srir Astu Swasti Prajabyah" yang artinya "Semoga Bahagia, Selamatlah Rakyat Sekalian".

Penetapan tersebut tercatat dalam prasasti sebagai awal berdirinya daerah Hampra secara resmi sebagai daerah Perdikan, dan dicatat dalam prasasti Plumpungan

Sejarahwan memperkirakan bahwa masyarakat Hampra telah memberikan kontribusi yang besar kepada Raja Bhanu, seorang raja yang sangat peduli terhadap rakyatnya.

Raja tersebut memiliki wilayah kekuasaan yang meliputi Salatiga, Kabupaten Semarang, Ambarawa, dan Kabupaten Boyolali.

Berdasarkan catatan Prasasti Plumpungan, serta dikuatkan dengan Perda No. 15 tahun 1995, Hari Jadi Kota Salatiga ditetapkan jatuh pada tanggal 24 Juli.

Saat ini, Salatiga telah berkembang menjadi kota modern yang dihuni oleh masyarakat yang beragam hingga mendapat julukan Indonesia Mini.

Editor : Baskoro Septiadi
#Hampra #Kota Salatiga #Prasasti Plumpungan #Indonesia Mini #batu prasasti #perdikan #sejarah kota Salatiga #Andesit