Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Wakil Dekan FTIK UIN Salatiga Soroti Kurikulum Merdeka Belajar dan Fenomena Kapitalisme Pendidikan di Hari Pendidikan

Dhinar Sasongko • Kamis, 2 Mei 2024 | 16:16 WIB
Photo
Photo

RADARSEMARANG.ID, Salatiga - Dalam memperingati Hari Pendidikan dengan tema "Bergerak Bersama Lanjutkan Merdeka Belajar", Jurnalis Jawa Pos Radar Semarang berkesempatan untuk berbincang dengan Prof. Dr. Rasimin, M.Pd, Wakil Dekan Bidang Administrasi Keuangan dan Lembaga Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTIK) UIN Salatiga pada Kamis (2/5/2024).

Prof. Rasimin menyoroti implementasi Kurikulum Merdeka Belajar yang membawa angin segar bagi dunia pendidikan Indonesia.

Memberikan otonomi lebih bagi pendidik dan siswa, kurikulum ini diharapkan dapat mendorong pembelajaran yang lebih berpusat pada individu.

"Kurikulum Merdeka Belajar mengusung semangat humanisme dan kemandirian, membuka ruang bagi guru dan siswa untuk berkreasi dan mengembangkan potensi mereka secara maksimal," ungkap Prof. Rasimin.

Ia juga tak memungkiri kompleksitas yang dihadapi dalam implementasi kurikulum ini. "Konten pembelajaran yang masih terkesan kompleks menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi," tuturnya.

Sebagai solusi, Prof. Rasimin mengusulkan model Liberal Art, sistem pendidikan abad pertengahan  yang menekankan pada dua bidang utama: trivium (tata bahasa, logika, dan retorika) dan quadrivium (aritmatika, geometri, musik, dan astronomi).

"Model Liberal Art menawarkan pembelajaran yang padat dan terstruktur, namun tetap komprehensif dan bermakna bagi siswa," jelas Prof. Rasimin.

Di tengah semangat Merdeka Belajar, Prof. Rasimin juga menyoroti fenomena kapitalisme pendidikan yang kian marak di Indonesia. Dimana biaya pendidikan di Indonesia makin kemari semakin mahal.

Ia menekankan pentingnya perayaan Hari Pendidikan sebagai momen untuk memperkuat komitmen terhadap pendidikan yang inklusif dan merdeka, selaras dengan cita-cita Ki Hajar Dewantara.

"Pendidikan harus menjadi hak bagi semua, bukan hak istimewa bagi yang mampu membayar. Kita perlu memperkuat komitmen terhadap pendidikan yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia," tegas Prof. Rasimin.

Prof. Rasimin berharap Hari Pendidikan tahun ini dapat menjadi titik balik untuk mewujudkan visi pendidikan yang lebih ideal, di mana setiap individu memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang tanpa terhalang oleh faktor ekonomi atau sosial.

"Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat komitmen dan bersinergi dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan merdeka bagi generasi penerus bangsa," pungkasnya. (sas/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#Rasimin #Hari Pendidikan #UIN Salatiga