RADARSEMARANG.ID, Salatiga - Prof Dr Rasimin dikawal oleh komunitas vespa saat berangkat dari kediamannya di Perum Harapan Indah, Pulutan, Kota Salatiga menuju UIN Salatiga untuk dikukuhkan sebagai guru besar.
Dengan menggunakan setelah jas rapi, Rasimin diantar oleh keluarga dan kolega dengan mengendarai mobil jeep dan motor vespa. Hal ini menurutnya agar lebih membumi dan merakyat.
"Ini menggambarkan saya sebagai guru besar pendidikan IPS, bisa beradaptasi dengan masyarakat apapun. Dan juga sebagai solidaritas dari kawan-kawan semua dalam rangka untuk menghayubagyo pengangkatan guru besar saya," katanya.
Dalam pengukuhannya, ia menyampaikan orasi yang berjudul Pokoknya Post-Humanis. Dimana Rasimin mengeksplorasi era post-humanisme sebagai fase transisi epistem manusia.
"Era post-humanisme membawa perubahan luar biasa dalam masyarakat. Serta saya menyoroti perubahan hubungan manusia dengan entitas non-manusia, " ujarnya.
Dalam post-humanisme menurutnya lebih menekankan produk-produk teknologi. Dan sebagai dosen dan guru besar IPS harus bisa memainkan peran. Bagaimana proses pembelajaran IPS bisa lebih bermakna dan powerfull.
"Sehingga ilmu dari pembelajaran tersebut bisa mudah diterima oleh anak didik kita terutama masyarakat yang ada di sekitar, " terangnya.
Menurutnya, Ilmu Pengetahuan Sosial harus memainkan peran sentral dalam merumuskan pemahaman baru tentang identitas manusia, interaksi sosial, dan dampak teknologi pada masyarakat. Sehingga perlu adaptasi Pendidikan IPS dengan era post-humanisme.
"Sebab tantangan saat ini melibatkan pemahaman mendalam tentang ontologi manusia, pengembangan metode pembelajaran mutakhir, dan penyesuaian terhadap perubahan paradigma sosial dan teknologi, " pungkasnya.
Prof Rasimin sendiri lahir di Desa Pakis, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Ia juga pernah menempuh pendidikan di SD Negeri Pakis Tambakromo, MTs Roudlotusysyubban Winong Pati, SMU Wahid Hasyim Pati, dan jenjang S1 di IAIN Kudus, S2 di Universitas Negeri Semarang, dan S3 di Universitas Pendidikan Indonesia. (nun/bas)
Editor : Baskoro Septiadi