Dalam kegiatan tersebut mereka meminta agar dilatih memasak menu satu minggu isi piring balita.
“Jika memungkinkan, mohon kami dilatih memasak menu satu minggu isi piring balita Pak,” pinta Panca, salah seorang ibu dari balita risiko stunting.
Dikatakan ia, kendala yang sering dihadapi dalam mengasuh anak balita adalah meningkatkan selera makan. Anak sudah dimasakkan akan tapi masih saja susah makan. Akibatnya saat mengikuti Posyandu berat badan dan tinggi badan anak menjadi kurang dari batas normal usianya.
Harapan yang sama juga disampaikan Tiwi, seorang ibu keluarga risiko stunting. Faktor kesibukan orang tua menjadikan anaknya diasuh oleh asisten rumah tangga.
Jika ada pelatihan memasak menu gizi seimbag dalam satu minggu isi piring maka dia akan mengikuti. Karena masalah yang dihadapi kebanyakan ibu-ibu adalah kurangnya pengetahuan.
“Kami akan berterima kasih jika ada pelatihan untuk meningkatkan keterampilan memasak. Dengan demikian percepatan penurunan angka stunting dapat terwujud, dimulai dari peningkatan pemahaman dan keterampilan orang tua,” jelas Tiwi.
Kegiatan pendampingan keluarga risiko stunting menghadirkan dokter Puskesmas Sidorejo, Psikolog DP3APPKB dan sejumlah Bidan Fasilitas Kesehatan. Sedangkan peserta diikuti keluarga risiko stunting dan kader Kampung KB Teratai Kauman Kidul.
Hadir pula dalam kegiatan tersebut Lurah Kauman Kidul Herry Ponco Setiawan, Kabid Pengendalian Penduduk Sumarno, dan mahasiswa KKN UKSW Salatiga.
Tites Sri Dewi Pratiwi, Psikolog DP3APP menegaskan bahwa pola asuh itu terdiri dari dua kata. Artinya bahwa pola asuh tidak dapat diserahkan kepada ibu saja. Pola asuh harus dilakukan orang tua secara bersama antara bapak dan ibu. Kata kuncinya adalah komunikasi kedua orang tua serta menyempatkan waktu di tengah kesibukan.
“Kalau Bapaknya ngomong capek, semua juga capek. Maka harus dibangun komunikasi yang harmonis,” jelas Tites.
Sementara itu dokter Wawan Satya Laksana menjelaskan bahwa anak risiko stunting sebenarnya membutuhkan tambahan vitamin dan zinc. Pemerintah kota Salatiga sebenarnya dapat menyiapkan kebutuhan anak balita tersebut.
Namun karena saat ini masih ada larangan obat sirup kepada anak, maka suplemen tambahan untuk balita belum dapat dilakukan. Saat ini BPOM RI sedang meneliti obat sirup. Diharapkan dalam waktu dekat sudah ada kabar baik.
“Anak kesulitan minum vitamin jika dalam bentuk tablet meskipun dilembutkan sebelumnya. Kita masih menunggu rilis BPOM RI yang masih bekerja keras melakukan penelitian. Jika sudah ada rekomendasi, anak-anak balita dapat segera menerima suplemen tambahan vitamin dan zinc,” jelasnya.(sas) Editor : Agus AP