Seruan itu disampaikan Wali Kota Yuliyanto melalui surat edaran pelaksanaan kurban. Pemkot meminta masyarakat sebisa mungkin memotong hewan kurban di rumah pemotongan hewan (RPH). Namun karena kapasitas terbatas, banyak yang memotong mandiri.
"Semua harus mengatur kepadatan dengan membatasi jumlah panitia dalam pelaksanaan pemotongan hewan kurban. Selain itu, pemotongan hewan kurban hanya dihadiri oleh panitia yang langsung menangani proses pemotongan hewan dan daging," terang wali kota.
Sementara saat menyembelih sapi, petugas harus memaksimalkan penggunakan APD. Pasalnya, proses perobohan dan penyembelihan yang tidak memungkinkan jarak minimal satu meter antar orang.
"Petugas yang melakukan pengulitan, penanganan dan pencacahan karkas/daging dan jeroan harus menggunakan APD minimal masker, sarung tangan sekali pakai, apron, dan penutup alas kaki," papar Yuliyanto. Ditambah selama kegiatan pemotongan berlangsung dilarang makan dan minum.
Terpisah, tim pengecek kesehatan hewan kurban dari Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang menyatakan hewan kurban tahun ini lebih sehat.
Hal tersebut dinyatakan setelah tim melakukan pengecekan ke lapangan dan tidak ditemukan hewan kurban sakit.
Kepala Dispertanikap Kabupaten Semarang Wigati Sunu mengatakan, hal ini merupakan sinyal bagus. Karena tidak ditemukan hewan sakit.
"Para penyedia hewan kurban memahami dengan baik terkait merawat hewan kurban sehingga hewan layak," ungkapnya ketika ditemui saat pengecekan kesehatan di Ungaran Timur Senin (19/7/2021). (sas/ria) Editor : Agus AP